KUA Bunguran Barat (HUMAS) — Membiasakan istighfar bukan sekadar memperbanyak ucapan astaghfirullah, tetapi menjadi sarana bagi seorang muslim untuk menyadari kekurangan, memohon ampun, dan terus memperbaiki diri. Pesan tersebut disampaikan salah Staf KUA Bunguran Barat, Harjono, dalam pengajian rutin selepas Magrib hingga menjelang Isya di Masjid Besar An-Nur Sedanau, Minggu (27/9).

Pengajian yang diikuti pengurus Masjid Besar An-Nur dan jamaah tersebut mengangkat tema “Anjuran Istighfar dan Keutamaan Istighfar.” Dalam penyampaiannya, Harjono mengajak jamaah menjadikan istighfar sebagai bagian dari amalan harian, bukan hanya dilakukan ketika menyadari telah berbuat kesalahan.

“Jangan menunggu berbuat dosa baru beristighfar. Rasulullah SAW yang telah dijaga dari dosa saja memperbanyak istighfar, apalagi kita sebagai manusia yang tidak luput dari kesalahan. Istighfar hendaknya menjadi kebiasaan untuk terus mengingat Allah dan memperbaiki diri,” ujar Harjono.

Harjono menjelaskan, Al-Qur’an menyebutkan sejumlah keutamaan istighfar. Dalam QS. Nuh ayat 10–12, Allah SWT memerintahkan hamba-Nya memohon ampun dan menyebutkan berbagai karunia yang menyertainya, termasuk turunnya hujan, bertambahnya harta dan anak, serta keberkahan dalam kehidupan. Sementara QS. Hud ayat 3 mengaitkan istighfar dan taubat dengan kenikmatan yang baik hingga waktu yang ditentukan.

Selain itu, QS. Al-Anfal ayat 33 menyebutkan bahwa Allah tidak mengazab suatu kaum ketika mereka memohon ampun. Pesan tersebut menunjukkan pentingnya istighfar sebagai bagian dari kesadaran seorang hamba untuk kembali kepada Allah SWT.

Menurut Harjono, anjuran memperbanyak istighfar juga tercermin dari keteladanan Rasulullah SAW. Dalam hadis riwayat Bukhari, Rasulullah SAW disebut beristighfar dan bertaubat lebih dari 70 kali dalam sehari. Dalam riwayat Muslim, beliau juga menganjurkan umat untuk bertaubat dan memohon ampun kepada Allah serta menyebutkan bahwa beliau bertaubat kepada Allah sebanyak 100 kali dalam sehari.

“Istighfar yang baik tidak berhenti pada ucapan. Ia perlu diikuti penyesalan atas kesalahan, meninggalkan perbuatan dosa, dan tekad untuk tidak mengulanginya. Di situlah istighfar menjadi bagian dari taubat yang sungguh-sungguh,” jelasnya.

Materi tersebut diharapkan mendorong jamaah menjadikan istighfar sebagai kebiasaan yang membangun kesadaran spiritual dan introspeksi diri. Dengan membiasakan memohon ampun, jamaah diajak lebih peka terhadap kesalahan, menjaga perilaku, serta memperkuat hubungan dengan Allah SWT dalam kehidupan sehari-hari.

Pengajian rutin ini sekaligus menjadi bagian dari pembinaan umat yang dilakukan KUA Bunguran Barat melalui para personilnya. Masjid menjadi salah satu ruang strategis untuk menyampaikan pemahaman keagamaan sekaligus mendorong pengamalan nilai-nilai Islam dalam kehidupan masyarakat.

Melalui pembinaan yang berlangsung secara rutin, KUA Bunguran Barat tidak hanya menyampaikan materi keagamaan, tetapi turut membangun kebiasaan positif jamaah. Istighfar diarahkan tidak berhenti sebagai amalan lisan, melainkan menjadi pintu untuk melakukan evaluasi diri, memperbaiki perilaku, dan meningkatkan kualitas kehidupan keagamaan masyarakat.