Sedanau, Natuna (HUMAS) — Menjaga kesehatan di usia lanjut tidak hanya berkaitan dengan pemeriksaan kondisi fisik, tetapi juga bagaimana lansia tetap memiliki aktivitas yang bermakna dan menjaga ketenangan spiritual. Pesan tersebut disampaikan Kepala KUA Bunguran Barat dalam kegiatan Prolanis Klub Ikan Mengkait di Rumah Makan Do’a Ibu, Kamis (10/9), melalui materi “Terapi Ibadah dan Spiritualitas Lansia.”
Kegiatan yang diikuti peserta Prolanis dan dihadiri staf Puskesmas Sedanau tersebut menjadi ruang kolaborasi antara aspek kesehatan dan pembinaan keagamaan. KUA Bunguran Barat hadir memberikan penguatan spiritual dengan mengajak para lansia melihat ibadah sebagai bagian dari rutinitas yang dapat menjaga semangat, ketenangan, sekaligus mendorong mereka untuk tetap aktif dalam kehidupan sehari-hari.
Dalam penyampaiannya, Kepala KUA Bunguran Barat menjelaskan bahwa aktivitas ibadah memiliki dimensi yang tidak hanya berkaitan dengan hubungan manusia kepada Allah SWT, tetapi juga dapat menjadi bagian dari rutinitas gerak tubuh. Shalat, wudhu, berjalan menuju tempat ibadah, serta aktivitas keagamaan lainnya dapat menjadi aktivitas fisik ringan selama dilakukan sesuai kemampuan masing-masing.
“Ibadah itu tidak hanya memberikan ketenangan bagi hati, tetapi juga membuat kita tetap bergerak. Wudhu, berdiri, rukuk, sujud dalam shalat, berjalan menuju masjid, dan mengikuti kegiatan keagamaan merupakan aktivitas yang membuat tubuh tetap aktif. Tentu semuanya dilakukan sesuai kemampuan dan kondisi masing-masing,” ujar Kepala KUA Bunguran Barat.
Ia menekankan bahwa lansia tidak perlu memaksakan diri dalam beribadah maupun melakukan aktivitas. Islam memberikan kemudahan kepada umat untuk menjalankan ibadah sesuai kemampuan, sehingga keterbatasan fisik tidak seharusnya menjadi penghalang untuk tetap mendekatkan diri kepada Allah SWT.
“Yang terpenting bukan seberapa banyak aktivitas yang kita lakukan, tetapi bagaimana kita tetap istiqamah beribadah sesuai kemampuan. Ketika tubuh mulai memiliki keterbatasan, jangan berhenti beribadah. Sesuaikan gerak dan cara ibadah dengan kemampuan kita, karena Allah mengetahui keadaan setiap hamba-Nya,” lanjutnya.
Menurutnya, aktivitas ibadah yang dilakukan secara rutin juga dapat membantu lansia mempertahankan pola kehidupan yang teratur. Shalat lima waktu, membaca Al-Qur’an, berdzikir, menghadiri pengajian, dan bersilaturahmi memberikan rutinitas positif sekaligus ruang bagi lansia untuk tetap terhubung dengan lingkungan sosial.
Kegiatan Prolanis tersebut diharapkan tidak hanya memberikan pemahaman mengenai pentingnya menjaga kesehatan, tetapi juga memperkuat kesadaran bahwa kesehatan jasmani dan spiritual merupakan dua hal yang dapat berjalan beriringan. Lansia yang tetap aktif secara sosial dan keagamaan diharapkan dapat menjalani masa lanjut usia dengan lebih bermakna.
Keterlibatan KUA Bunguran Barat dalam kegiatan ini merupakan bentuk sinergi dengan Puskesmas Sedanau dalam memberikan pendekatan pembinaan yang lebih menyeluruh kepada masyarakat. KUA mengambil peran pada aspek spiritual melalui edukasi dan pembinaan keagamaan, sementara kegiatan Prolanis menjadi ruang yang mendukung perhatian terhadap kesehatan peserta.
Bagi KUA Bunguran Barat, pembinaan umat tidak berhenti pada kegiatan keagamaan di masjid atau majelis taklim. Pembinaan juga perlu hadir dalam ruang-ruang pelayanan masyarakat, termasuk kegiatan kesehatan yang melibatkan kelompok lansia.
Melalui sinergi tersebut, KUA Bunguran Barat mendorong agar para lansia tetap memiliki ruang untuk beribadah, bersosialisasi, belajar, dan beraktivitas sesuai kemampuan. Dengan keseimbangan antara kesehatan jasmani, aktivitas sosial, dan ketahanan spiritual, masa lanjut usia diharapkan dapat dijalani dengan lebih tenang, aktif, dan bermakna.