KUA SUBI (HUMAS) --- Ada banyak hal yang boleh berbeda dalam kehidupan bermasyarakat: pilihan makanan, hobi, bahkan cara memandang suatu persoalan. Namun, ada satu hal yang sebaiknya jangan ikut berbeda terlalu jauh, yaitu semangat untuk tetap menjaga kerukunan. Pesan itulah yang mengemuka dalam kegiatan Penguatan Moderasi Beragama sekaligus Pembinaan Organisasi Kemasyarakatan (Ormas) Tingkat Kecamatan Subi yang dilaksanakan KUA Kecamatan Subi pada Selasa (29/9/2026).
Kegiatan tersebut menghadirkan Kepala KUA Kecamatan Subi, Tangguh Damar Ramadhan, sebagai pemateri. Dengan suasana yang santai namun tetap berbobot, Tangguh mengajak peserta memahami bahwa moderasi beragama bukan berarti “agama dibuat setengah-setengah”, apalagi mencari aman dengan mengurangi keyakinan. Justru, moderasi beragama mengajarkan bagaimana seseorang dapat menjalankan agamanya dengan teguh sekaligus tetap mampu menghormati orang lain yang memiliki perbedaan.
Dalam penyampaiannya, Tangguh menekankan bahwa kehidupan bermasyarakat tidak selalu berjalan dengan satu warna. Perbedaan pemikiran, latar belakang, maupun cara memahami suatu persoalan merupakan hal yang wajar. Yang menjadi penting adalah bagaimana perbedaan tersebut disikapi dengan bijak. Tidak semua perbedaan harus menjadi perdebatan, dan tidak setiap perdebatan harus berakhir dengan permusuhan. Kadang, sedikit menahan diri justru lebih menyejukkan daripada panjang lebar ingin menjadi yang paling benar.
Pembinaan organisasi kemasyarakatan juga menjadi bagian penting dalam kegiatan tersebut. Ormas diharapkan tidak hanya aktif ketika ada kegiatan, tetapi juga mampu menjadi penggerak kerukunan dan perekat masyarakat. Sebab, organisasi yang kuat bukan hanya yang ramai kegiatannya, tetapi juga yang mampu menghadirkan manfaat, menjaga komunikasi, serta ikut menyelesaikan persoalan masyarakat dengan cara yang santun dan bijaksana.
Melalui kegiatan ini, KUA Subi berharap semangat moderasi beragama dapat terus tumbuh dalam kehidupan masyarakat. Berbeda bukan alasan untuk berjauhan, dan beragama dengan teguh bukan alasan untuk kehilangan sikap ramah. Karena pada akhirnya, Subi tidak hanya membutuhkan masyarakat yang taat beragama, tetapi juga masyarakat yang tahu kapan berbicara, kapan mendengar, dan yang paling penting—kapan harus sama-sama menjaga kerukunan.