KUA SUBI (HUMAS) --- Peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW di Kecamatan Subi, Kabupaten Natuna, berlangsung khidmat sekaligus meriah dengan tetap mempertahankan tradisi keagamaan masyarakat Melayu setempat. Bagi masyarakat Subi, Maulid Nabi bukan sekadar momentum memperingati kelahiran Rasulullah SAW, tetapi juga menjadi kesempatan untuk mempererat silaturahmi, memperbanyak sedekah, serta menjaga tradisi yang telah diwariskan secara turun-temurun.

Rangkaian peringatan dilaksanakan selama tiga hari berturut-turut di masjid yang berbeda. Kegiatan diawali pada 12 Rabiul Awal dengan dzikir Maulid yang dimulai sejak pukul 08.00 hingga menjelang waktu Dzuhur. Jamaah mengikuti dzikir dalam posisi duduk yang kemudian dilanjutkan dengan berdiri. Tradisi berdiri dalam rangkaian dzikir tersebut dimaknai sebagai bentuk penghormatan dan adab kepada Rasulullah SAW atas kelahiran beliau.

Tidak hanya dzikir dan sholawat, masyarakat Subi juga memiliki tradisi unik berupa penyemprotan minyak wangi kepada jamaah yang sedang mengikuti rangkaian Maulid. Tradisi tersebut memiliki makna simbolis yang menggambarkan pemberian wewangian kepada bayi yang baru lahir sekaligus menjadi bagian dari ekspresi kegembiraan masyarakat dalam memperingati kelahiran Nabi Muhammad SAW.

Usai rangkaian dzikir, kemeriahan Maulid dilanjutkan dengan tradisi Dulang. Masyarakat membawa berbagai hidangan sedekah menggunakan wadah khusus yang disebut Dulang. Dulang dibawa dengan cara ditandu secara bersama-sama menuju masjid dan diiringi lantunan sholawat Nabi. Tradisi ini menjadi salah satu ciri khas peringatan Maulid Nabi di Subi yang memperlihatkan kuatnya semangat gotong royong dan kebersamaan masyarakat.

Setiap Dulang umumnya berisi sekitar 17 hingga 20 jenis makanan yang disiapkan secara sukarela oleh masyarakat. Hidangan tersebut diprioritaskan bagi para tamu yang datang dari luar wilayah Subi untuk mengikuti peringatan Maulid Nabi. Setelah kebutuhan para tamu terpenuhi, hidangan kemudian dinikmati bersama oleh masyarakat setempat. Suasana makan bersama di dalam masjid menjadi penutup rangkaian kegiatan setelah pembacaan doa.

KUA Subi melihat tradisi Dulang sebagai bagian dari kekayaan tradisi keagamaan masyarakat yang mengandung nilai sedekah, silaturahmi, gotong royong, dan kebersamaan. Tradisi yang terus dijaga masyarakat ini menjadi bukti bahwa nilai-nilai keislaman dapat tumbuh dan berjalan beriringan dengan budaya lokal yang diwariskan antargenerasi.

Melalui peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW, KUA Subi turut mengajak masyarakat untuk terus menjaga tradisi positif yang memiliki nilai keagamaan dan sosial. Keunikan Dulang yang dipadukan dengan dzikir, sholawat, sedekah, serta makan bersama menjadikan Maulid Nabi di Subi memiliki daya tarik tersendiri dan berpotensi menjadi salah satu wisata religi yang memperkenalkan kekayaan tradisi Islam masyarakat Melayu di wilayah perbatasan Indonesia.