Kemenag Natuna (HUMAS) --- Praktisi Hubungan Masyarakat (Humas) di lingkungan Kementerian Agama didorong memperkuat tata kelola komunikasi publik dengan beralih dari sekadar mempublikasikan kegiatan seremonial menjadi penyampai narasi bermakna (human touch) yang berdampak nyata bagi masyarakat. Hal ini mengemuka dalam Webinar Nasional bertajuk "Penguatan Tata Kelola Kehumasan Melalui Kemenag Avengers" yang digelar secara daring pada Rabu (19/8/2026).
Forum strategis ini mencatatkan partisipasi 992 peserta yang terdiri atas 124 peserta perwakilan Kantor Wilayah (Kanwil), 247 peserta Kankemenag Kota, serta 621 peserta Kankemenag Kabupaten di seluruh Indonesia, termasuk humas Kankemenag Kab Natuna
Sekretaris Jenderal Kementerian Agama, Kamaruddin Amin, saat membuka forum menegaskan pentingnya kolaborasi aktif jajaran humas dengan pimpinan satker di daerah.
"Kita harus engage dengan para pimpinan dan menjadi agen Kementerian Agama yang aktif melakukan komunikasi publik. Tugas kita adalah menyebarluaskan praktik baik (best practices) yang telah dan sedang dirasakan dampaknya oleh masyarakat," ujar Kamaruddin.
Senada dengan Sekjen, Koordinator Staf Khusus Menteri Agama Bidang Kebijakan Publik, Hubungan Media, Humas, dan Pengembangan SDM, Ismail Cawidu, mengingatkan bahwa konsep humas sebagai pusat informasi konvensional sudah tidak relevan. Humas modern dituntut menjadi pusat rujukan berita (trusted reference) yang kredibel, beretika, dan berbasis data valid di tengah disrupsi kecerdasan buatan (artificial intelligence / AI).
"Humas tidak sekadar berlomba memproduksi konten atau berita terbanyak, melainkan berlomba membangun narasi yang valid, beretika, dan berorientasi pada nilai-nilai kemanusiaan," tegas Ismail, sembari menekankan pentingnya disiplin verifikasi dan analisis manusia (human intelligence) dalam memitigasi krisis informasi.
Sementara itu, Kepala Biro Humas dan Komunikasi Publik Kemenag, Thobib Al Asyhar, memaparkan strategi konkret integrasi komunikasi antara pusat dan daerah melalui konsep satu ekosistem publikasi Kemenag Avengers. Thobib menggarisbawahi perubahan paradigma dalam publikasi daerah agar selaras mendukung Asta Cita Presiden dan Asta Protas Kementerian Agama.
"Humas daerah adalah mitra strategis. Pola kerja kita harus bergeser dari sekadar memberitakan 'kegiatan telah dilaksanakan' menjadi 'apa yang berubah, siapa penerima manfaatnya, dan apa dampaknya bagi publik'," jelas Thobib.
Thobib menekankan rumus sederhana publikasi bernilai: Informasi + Data + Cerita Manusia + Dampak. Ia mengajak humas di daerah menerapkan alur narasi Masalah → Intervensi → Hasil → Dampak. Sebagai contoh, publikasi pembinaan madrasah tidak sekadar seremonial, tetapi menyoroti bagaimana intervensi Kemenag meningkatkan mutu pembelajaran siswa.
Praktik baik di daerah seperti inisiatif ekoteologi, penguatan kerukunan rumah ibadah, pembinaan remaja usia nikah, hingga orientasi madrasah yang ramah anak dinilai menjadi bukti konkret kehadiran layanan Kemenag. Ke depan, Kemenag juga akan menjalankan pemantauan dan evaluasi (monev) berkala secara nasional guna menilai resonansi publik dan dampak nyata dari setiap narasi yang dipublikasikan.
Bagi insan humas Kankemenag kabupaten/kota, penguatan tata kelola ini menjadi momentum strategis untuk terus mengabarkan kiprah Kemenag Berdampak langsung dari denyut kehidupan masyarakat.