KUA Bunguran Barat (HUMAS) — Memperkuat fondasi keimanan menjadi langkah penting bagi muallaf dalam menjalani kehidupan sebagai seorang Muslim. Hal tersebut menjadi fokus pembinaan muallaf yang dilaksanakan KUA Kecamatan Bunguran Barat melalui kegiatan pembinaan bertema “Rukun Iman dan Rukun Islam” di kediaman Muhammad AlFarabi, Selasa (8/9).
Kegiatan tersebut diikuti oleh muallaf binaan KUA Bunguran Barat dan dibimbing oleh Harjono, staf KUA Bunguran Barat yang bertugas sebagai pembina muallaf. Pembinaan dilakukan sebagai bagian dari upaya KUA mendampingi muallaf agar memiliki pemahaman keagamaan yang kuat serta mampu mengamalkan ajaran Islam dalam kehidupan sehari-hari.
Dalam penyampaiannya, Harjono menjelaskan bahwa Rukun Iman merupakan dasar keyakinan seorang Muslim yang harus dipahami dan diyakini. Rukun Iman terdiri atas enam perkara, yaitu iman kepada Allah SWT, malaikat-malaikat Allah, kitab-kitab Allah, rasul-rasul Allah, hari akhir, serta qada dan qadar.
“Rukun Iman adalah dasar yang harus kita tanamkan dalam hati. Kita beriman kepada Allah, malaikat, kitab-kitab Allah, para rasul, hari akhir, serta qada dan qadar. Keimanan inilah yang menjadi fondasi seorang Muslim dalam menjalani kehidupan,” ujar Harjono.
Ia juga menjelaskan bahwa keimanan tidak berhenti pada keyakinan di dalam hati, tetapi perlu diwujudkan melalui amal dan ibadah. Karena itu, pemahaman terhadap Rukun Iman perlu berjalan seiring dengan pemahaman terhadap Rukun Islam sebagai bentuk pengamalan ajaran Islam.
“Kalau Rukun Iman menjadi dasar keyakinan, maka Rukun Islam menjadi bentuk pengamalannya. Kita bersyahadat sebagai bukti keimanan, kemudian mendirikan shalat, menunaikan zakat, berpuasa di bulan Ramadan, dan melaksanakan haji bagi yang mampu,” jelasnya.
Menurut Harjono, pemahaman tersebut penting bagi muallaf agar proses belajar Islam tidak hanya sebatas mengenal istilah atau menghafal rukun-rukunnya, tetapi memahami makna dan mengamalkannya secara bertahap sesuai kemampuan.
“Menjadi seorang Muslim adalah proses belajar sepanjang kehidupan. Tidak perlu merasa harus langsung sempurna. Yang penting terus belajar, memperkuat iman, memperbaiki ibadah, dan berusaha mengamalkan ajaran Islam sedikit demi sedikit dalam kehidupan sehari-hari,” tambah Harjono.
Pembinaan ini diharapkan memberikan dampak nyata bagi muallaf binaan, terutama dalam memperkuat keyakinan, menambah pemahaman dasar keislaman, serta membangun kepercayaan diri dalam menjalankan ibadah. Pendampingan secara berkelanjutan juga memberikan ruang bagi muallaf untuk bertanya dan memperoleh penjelasan ketika menghadapi persoalan dalam proses belajar agama.
Keterlibatan KUA Bunguran Barat dalam kegiatan tersebut merupakan bagian dari pelaksanaan fungsi pembinaan kehidupan keagamaan masyarakat. KUA tidak hanya memberikan pelayanan administrasi keagamaan, tetapi juga hadir memberikan pendampingan kepada kelompok masyarakat yang membutuhkan penguatan pemahaman agama, termasuk para muallaf.
Melalui pembina muallaf, KUA Bunguran Barat berupaya memastikan proses pendampingan berjalan secara berkelanjutan, mulai dari pengenalan dasar-dasar keislaman, penguatan akidah, hingga pembiasaan ibadah. Pendekatan tersebut dilakukan agar muallaf mendapatkan ruang belajar yang nyaman dan sesuai dengan kebutuhan mereka.
KUA Bunguran Barat juga terus mendorong pembinaan yang tidak hanya berorientasi pada pengetahuan agama, tetapi juga pada pengamalan. Dengan memahami hubungan antara Rukun Iman sebagai fondasi keyakinan dan Rukun Islam sebagai bentuk pengamalan, muallaf diharapkan semakin mantap menjalani kehidupan sebagai seorang Muslim.
Pembinaan di kediaman Muhammad AlFarabi tersebut menjadi salah satu bentuk nyata kehadiran KUA Bunguran Barat di tengah masyarakat. Melalui pendampingan yang dilakukan secara langsung dan berkelanjutan, KUA berkomitmen mendukung para muallaf agar tumbuh dalam keimanan, semakin memahami ajaran Islam, dan mampu mengamalkannya dalam kehidupan sehari-hari.