KUA Bunguran Barat (HUMAS) – Menanamkan kecintaan terhadap Al-Qur’an perlu dimulai sejak usia sekolah, tidak hanya dengan membiasakan anak membacanya, tetapi juga memastikan setiap huruf dilafalkan secara tepat. Upaya tersebut diwujudkan KUA Bunguran Barat melalui kegiatan pembelajaran pemberantasan buta aksara Al-Qur’an bagi siswa-siswi SDIT IC Bunguran Barat, Kamis (5/11).

Kegiatan yang dilaksanakan di lingkungan SDIT IC Bunguran Barat ini diikuti oleh siswa-siswi dari kelas yang telah ditentukan pihak sekolah. Pembelajaran dibimbing oleh Ernilawati, staf KUA Bunguran Barat, dengan memberikan pendampingan membaca Al-Qur’an sesuai kemampuan dan tahapan belajar peserta didik.

Dalam proses pembelajaran, Ernilawati menekankan pengenalan makharijul huruf, yakni tempat keluarnya huruf hijaiyah, serta penerapan hukum-hukum bacaan Al-Qur’an. Siswa diarahkan untuk mengenali karakter setiap huruf, memperbaiki pelafalan, dan memahami kaidah dasar tajwid agar bacaan tidak sekadar lancar, tetapi juga sesuai tuntunan.

Menurut Ernilawati, pembelajaran Al-Qur’an kepada anak-anak membutuhkan pendekatan yang sabar dan berkelanjutan. Kemampuan membaca yang baik perlu dibangun melalui latihan berulang, sehingga peserta didik semakin terbiasa melafalkan ayat-ayat Al-Qur’an dengan benar.

“Anak-anak perlu dikenalkan dengan Al-Qur’an melalui proses belajar yang menyenangkan dan tidak terburu-buru. Kita mulai dari mengenali huruf, memperbaiki makhrajnya, kemudian memahami hukum bacaannya. Harapannya, mereka tidak hanya bisa membaca, tetapi juga tumbuh rasa cinta dan keinginan untuk terus belajar Al-Qur’an,” ujar Ernilawati.

Ia menambahkan, pembelajaran membaca Al-Qur’an bukan semata-mata mengejar kemampuan menyelesaikan bacaan, melainkan membangun kebiasaan berinteraksi dengan kitab suci sejak dini. Karena itu, dukungan guru dan orang tua sangat diperlukan agar pembelajaran yang diterima di sekolah dapat dilanjutkan dalam kehidupan sehari-hari.

Kegiatan ini menjadi bagian dari kontribusi KUA Bunguran Barat dalam memperluas pembinaan keagamaan melalui lingkungan pendidikan. Kehadiran staf KUA di sekolah juga memperkuat sinergi antara lembaga keagamaan dan satuan pendidikan dalam mendukung pembentukan karakter religius peserta didik.

Melalui pembelajaran tersebut, siswa-siswi SDIT IC Bunguran Barat diharapkan semakin terampil membaca Al-Qur’an sesuai makharijul huruf dan hukum tajwid. Lebih dari itu, tumbuhnya kecintaan terhadap Al-Qur’an diharapkan menjadi bekal spiritual yang menyertai proses pendidikan dan perkembangan karakter mereka.