KUA Pulau Tiga (HUMAS) – Dalam upaya memperkuat jejaring dan kolaborasi pelestarian lingkungan laut melalui pendekatan keagamaan, Staff KUA Pulau Tiga menghadiri lokakarya Komunitas Peduli Maritim Natuna. (9/10/2026)
Ishak yang juga merupakan founder Komunitas Rumah Jepu, sebuah komunitas yang bergerak dalam kepedulian lingkungan dan gerakan literasi, mendapat dukungan penuh dari Rahmani, Kepala KUA Pulau Tiga untuk menghadiri lokakarya tersebut. Dukungan ini menjadi bentuk komitmen KUA Pulau Tiga dalam mendorong keterlibatan aktif aparatur keagamaan pada gerakan pelestarian lingkungan, khususnya melalui pendekatan ekoteologi maritim.
Dukungan Kepala KUA Pulau Tiga tersebut juga mencerminkan pentingnya membangun sinergi antara institusi keagamaan dan komunitas masyarakat dalam menjawab tantangan lingkungan di wilayah pesisir. "Dengan keterlibatan penghulu yang memiliki gerakan komunitas, nilai-nilai keagamaan diharapkan dapat semakin terintegrasi dalam upaya konservasi dan pengelolaan lingkungan laut secara berkelanjutan". Ungkapnya
Kegiatan ini menjadi ruang strategis untuk mempertemukan berbagai pemangku kepentingan dalam membangun kesadaran bersama mengenai pentingnya menjaga kelestarian ekosistem laut, khususnya di Kabupaten Natuna yang memiliki kekayaan sumber daya maritim dan keanekaragaman hayati laut.
Kehadiran Ishak dalam lokakarya tersebut merupakan bagian dari upaya memperkuat ekoteologi maritim, yaitu pendekatan yang mengintegrasikan nilai-nilai keagamaan dengan kepedulian terhadap kelestarian lingkungan laut. Melalui pendekatan ini, ajaran agama tidak hanya menjadi pedoman dalam hubungan manusia dengan Tuhan dan sesama manusia, tetapi juga menjadi landasan moral dalam memperlakukan alam secara bertanggung jawab.
Sebagai penghulu sekaligus penggerak komunitas, Ishak memandang bahwa upaya pelestarian lingkungan memiliki keterkaitan erat dengan nilai-nilai Islam. "Menjaga laut, melindungi terumbu karang, melestarikan padang lamun, serta mencegah kerusakan ekosistem pesisir merupakan bagian dari tanggung jawab manusia sebagai khalifah di bumi". Ungkap ishak.
Melalui lokakarya ini, penguatan jejaring antaranggota komunitas, pegiat lingkungan, dan berbagai pihak terkait diharapkan dapat membuka ruang kolaborasi yang lebih luas. Sinergi tersebut diperlukan agar gerakan konservasi maritim tidak hanya berfokus pada aspek teknis, tetapi juga menyentuh dimensi sosial, budaya, dan keagamaan masyarakat pesisir.
Bagi KUA Pulau Tiga, pengembangan ekoteologi maritim juga menjadi peluang untuk menghadirkan dakwah yang relevan dengan persoalan masyarakat. Pesan-pesan keagamaan dapat diintegrasikan dengan edukasi lingkungan melalui kegiatan pembinaan masyarakat, penyuluhan keagamaan, serta berbagai gerakan kolaboratif yang mendorong perilaku ramah lingkungan.
Dengan memperkuat jejaring bersama Komunitas Peduli Maritim Natuna, diharapkan semakin banyak pihak yang terlibat dalam menjaga keberlanjutan ekosistem laut. Kolaborasi ini menjadi langkah penting untuk menumbuhkan kesadaran bahwa kelestarian laut bukan hanya tanggung jawab pemerintah atau pegiat konservasi, melainkan tanggung jawab bersama seluruh elemen masyarakat.
Ekoteologi maritim menjadi pengingat bahwa menjaga laut bukan sekadar persoalan lingkungan, tetapi juga wujud tanggung jawab keimanan dan amanah untuk mewariskan alam yang lestari kepada generasi mendatang.