KUA Bunguran Utara (Humas) – Riuh rendah suara ombak di kejauhan seolah menjadi latar sunyi saat puluhan ibu-ibu yang tergabung dalam Badan Kontak Majelis Taklim (BKMT) Kecamatan Bunguran Utara melangkahkan kaki menuju Surau Al Mumtadz. Selasa (5/5/2026) siang, jarum jam tepat menunjukkan pukul 14.00 WIB, namun terik matahari tak menyurutkan langkah mereka untuk menjemput oase spiritual dalam pertemuan rutin bulanan.
Hadir di tengah-tengah jamaah, Kepala Kantor Urusan Agama (KUA) Bunguran Utara, Fathurohman. Sosoknya yang dikenal santun kali ini datang bukan sekadar menjalankan protokoler birokrasi, melainkan membawa pesan mendalam tentang esensi beragama di tengah dinamika zaman.
Bukan Sekadar Ritual
Dalam tausiyahnya, Fathurohman menekankan bahwa pertemuan majelis taklim tidak boleh berhenti pada seremonial atau sekadar rutinitas gugur kewajiban. Ia mengajak para anggota BKMT untuk membedah kembali makna "taklim" sebagai proses transformasi diri.
"Pertemuan ini adalah laboratorium sosial. Di Surau Al Mumtadz ini, kita tidak hanya belajar cara beribadah kepada Sang Pencipta, tetapi juga belajar bagaimana menjadi manusia yang bermanfaat bagi tetangga dan lingkungan," ujar Fathurohman di hadapan jamaah yang menyimak dengan takzim.
Ia menyoroti pentingnya peran perempuan, khususnya ibu-ibu majelis taklim, sebagai pilar pendidikan moral di dalam keluarga. Menurutnya, ketahanan keluarga adalah benteng utama dalam menghadapi gempuran arus informasi digital yang kian tak terbendung di wilayah kepulauan seperti Natuna.
Pesan Kerukunan dari Mimbar Surau
Suasana di dalam surau terasa sejuk meski suhu di luar cukup menyengat. Fathurohman menyelipkan pesan tentang moderasi beragama—sebuah narasi yang terus ia gaungkan di ujung utara Indonesia ini. Ia mengingatkan bahwa kesalehan individu harus berbanding lurus dengan kesalehan sosial.
Pertemuan rutin ini diakhiri dengan diskusi interaktif dan doa bersama. Bagi BKMT Bunguran Utara, kehadiran Kepala KUA bukan sekadar formalitas, melainkan penguat spiritualitas yang menjaga api semangat komunitas tetap menyala.
Saat matahari mulai condong ke barat, pertemuan di Surau Al Mumtadz pun usai. Namun, pesan-pesan yang disampaikan Fathurohman diharapkan tidak ikut luruh bersama langkah kaki para jamaah saat kembali ke rumah masing-masing, melainkan mengendap menjadi laku hidup sehari-hari.