KUA BUNGURAN UTARA (Humas) – Di tengah gempuran arus digital yang kian kencang menyentuh hingga ke pelosok Natuna, sebuah narasi besar tentang ketahanan keluarga digaungkan kembali. Nur Azizah binti Muhammad Yakub, Penyuluh Agama fungsional pada Kantor Urusan Agama (KUA) Kecamatan Bunguran Utara, kembali menjalankan rutinitas dakwahnya dalam pertemuan bulanan Muslimat NU di Kecamatan Bunguran Utara, Sabtu (11/4/2026).
Pertemuan rutin yang dihadiri puluhan ibu-ibu anggota Muslimat NU kali ini terasa berbeda. Nur Azizah membawa sebuah judul tausiyah yang puitis sekaligus provokatif: "Menanam Akar di Atas Awan: Mendidik Generasi Z-Alpha di Era Digital."
Dialektika Nilai dan Teknologi
Dalam penyampaiannya, Nur Azizah mengibaratkan dunia digital sebagai "awan"—sesuatu yang tampak luas, melayang tanpa batas, namun sering kali tidak berpijak pada bumi yang nyata. Baginya, tantangan terbesar orang tua saat ini adalah mendidik anak-anak yang lahir di persimpangan Generasi Z dan Alpha (Z-Alpha).
"Mendidik anak zaman sekarang seperti menanam akar di atas awan. Kita dituntut menanamkan nilai-nilai tauhid dan akhlak yang kokoh (akar) di tengah ekosistem teknologi (awan) yang sangat labil dan cepat berubah," ujar Nur Azizah di hadapan jamaah.
Ia menekankan bahwa orang tua tidak boleh lagi sekadar menjadi "polisi" yang melarang penggunaan gawai, melainkan harus menjadi "kompas" yang memberikan arah.
Tiga Pilar Pendidikan Z-Alpha
Berdasarkan tinjauan edukasi islami, Nur Azizah merangkum tiga poin utama yang harus dikuasai oleh para ibu di Bunguran Utara:
1. Digital Literacy dengan Sentuhan Spiritual: Mengenalkan teknologi bukan hanya soal cara operasional, tapi soal tanggung jawab moral atas apa yang dilihat dan diunggah.
2. Keteladanan Visual: Generasi Z-Alpha adalah pembelajar visual. Mereka tidak lagi mendengarkan perintah, tapi meniru apa yang dilakukan orang tuanya terhadap gawai masing-masing.
3. Hadir Secara Utuh (Deep Connection): Memberikan waktu berkualitas tanpa intervensi notifikasi ponsel demi menjaga ikatan emosional anak.
Penguatan Peran KUA
Kehadiran Nur Azizah dalam forum ini menegaskan peran vital KUA yang tidak hanya mengurusi administrasi pernikahan, tetapi juga menjadi garda terdepan dalam pembinaan mental dan sosial masyarakat.
Ketua Muslimat NU Kecamatan Bunguran Utara mengapresiasi materi yang disampaikan. Menurutnya, isu ini sangat relevan mengingat anak-anak di Natuna kini sudah sangat akrab dengan media sosial, yang jika tidak dibarengi dengan pemahaman agama yang kuat, dapat mengikis jati diri lokal dan religiusitas mereka.
Pertemuan yang berlangsung khidmat ini ditutup dengan diskusi interaktif dan doa bersama, membawa harapan bahwa dari ujung utara Indonesia ini, akan lahir generasi yang meski kepalanya berada di "awan" digital, namun kakinya tetap berpijak kuat pada "akar" iman yang menghujam bumi.