KUA Bunguran Utara (Humas) – Di tengah deburan ombak dan ketenangan khas Bunguran Utara, sebuah harmoni tercipta dari balik ruang sederhana. Suara lantang anak-anak mengeja ayat suci bukan sekadar aktivitas rutin, melainkan upaya panjang menanamkan karakter melalui keindahan irama.
Pada Rabu (22/4/2026), Nur Azizah Binti Muhammad Yakub, Penyuluh Agama Islam fungsional pada Kantor Urusan Agama (KUA) Bunguran Utara, kembali duduk melingkar bersama kelompok binaan tilawahnya. Baginya, membimbing tilawah bukan sekadar mengajarkan teknik pernapasan atau ketepatan makhraj, melainkan memberi "bekal" yang tidak akan habis dimakan zaman.
Melampaui Sekadar Seni Suara
Bagi Nur Azizah, irama dalam tilawah adalah pintu masuk untuk mencintai Al-Qur'an. Dengan sabar, ia menuntun satu demi satu santrinya untuk mendalami cengkok dan fluktuasi nada. Namun, di balik keindahan suara yang dikejar, ada filosofi kedisiplinan dan ketekunan yang sedang diajarkan.
"Irama itu seni, tapi konsistensi adalah ruhnya. Kami ingin anak-anak ini tidak hanya pandai melantunkan ayat saat lomba, tapi memiliki resonansi spiritual dalam kehidupan sehari-hari mereka," ujar Nur Azizah di sela pembinaan.
Investasi Jangka Panjang
Di era digital yang serba cepat, KUA Bunguran Utara melalui para penyuluhnya terus berupaya menjaga tradisi literasi Al-Qur'an tetap relevan. Pembinaan rutin ini dipandang sebagai investasi jangka panjang bagi generasi muda di wilayah perbatasan.
Pembinaan Karakter: Melatih kesabaran melalui pengulangan nada.
Pelestarian Tradisi: Menjaga marwah seni tilawah di tanah Melayu.
Bekal Kehidupan: Membangun kepercayaan diri dan ketenangan batin anak-anak.
Kegiatan yang berlangsung khidmat ini menjadi bukti bahwa peran KUA tidak hanya terbatas pada urusan administratif, tetapi juga menjadi episentrum pembangunan mental dan spiritual masyarakat. Melalui tangan dingin Nur Azizah, irama-irama tilawah dari Bunguran Utara diharapkan terus mengalun, menjadi cahaya penuntun bagi masa depan anak-anak didiknya.