KUA Bunguran Barat (Humas) – Peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW tidak hanya menjadi momentum mengenang kelahiran Rasulullah, tetapi juga ruang untuk mengambil pelajaran dari berbagai kisah yang berkaitan dengan perjalanan umat. Hal tersebut disampaikan Ustaz Syuif dalam ceramah Maulid Nabi Muhammad SAW di Masjid Al-Jam'an, Pinyong, Kelurahan Sedanau, Kamis (27/8).
Kegiatan dihadiri Kepala dan staf KUA Bunguran Barat, unsur pimpinan lintas sektoral serta jamaah Masjid Al-Jam'an. Dalam ceramahnya, Ustaz Syuif mengajak jamaah memaknai Maulid melalui kisah Abrahah, khususnya tentang pentingnya menjaga hak orang lain dalam kehidupan.
"Dalam kita berusaha mencari rezeki dan mendapatkan uang, jangan sampai usaha kita justru merugikan orang lain. Jangan mengambil hak orang lain, jangan merusak dan jangan merampas apa yang menjadi milik orang lain. Islam mengajarkan kita untuk mencari rezeki dengan cara yang baik dan tidak menzalimi sesama,” ujar Syuif.
Selain membahas etika dalam mencari rezeki, Syuif juga menyampaikan pentingnya pola pendidikan anak yang disesuaikan dengan perkembangan usia. Ia mengenalkan sebuah ungkapan populer yang membagi tahapan pendidikan anak menjadi tiga fase: usia 0–7 tahun diperlakukan seperti raja, usia 7–14 tahun seperti seorang pembantu dalam arti mulai dilatih disiplin dan tanggung jawab, sedangkan usia 14–21 tahun diperlakukan sebagai sahabat.
Menurutnya, setiap tahapan membutuhkan pendekatan yang berbeda. Orang tua tidak cukup hanya memberikan perintah, tetapi perlu memahami perkembangan anak dan membangun komunikasi yang baik agar nilai agama dan akhlak dapat tumbuh dalam diri mereka.
Dalam kesempatan yang sama, Kepala KUA Bunguran Barat, H. Dela Pulda, turut memberikan sambutan sekaligus memperkenalkan sejumlah program pelayanan dan pembinaan KUA kepada masyarakat.
"KUA bukan hanya tempat mengurus pernikahan. Di dalamnya ada banyak layanan dan program pembinaan yang kami hadirkan untuk masyarakat, mulai dari bimbingan perkawinan, pembinaan keluarga, wakaf, zakat, pembinaan muallaf, sampai dengan kegiatan keagamaan dan pembinaan umat. Kami ingin masyarakat mengetahui bahwa KUA hadir dan siap memberikan pelayanan sesuai tugas dan fungsi kami,” ungkap Dela Pulda.
Ia menambahkan, kehadiran KUA di tengah masyarakat perlu terus diperkuat melalui sinergi dengan tokoh agama, pengurus masjid, pemerintah desa, serta seluruh unsur masyarakat.
"Kami berharap masyarakat tidak ragu untuk berkoordinasi dan berkomunikasi dengan KUA. Apa yang menjadi kebutuhan pembinaan umat di tengah masyarakat akan terus kita upayakan bersama sesuai dengan kemampuan dan regulasi yang ada,” tambahnya.
Peringatan Maulid Nabi tersebut berlangsung dengan khidmat. Kegiatan menjadi momentum bagi jamaah untuk tidak hanya mengenang kelahiran Rasulullah SAW, tetapi juga mengambil pelajaran tentang kejujuran dalam mencari rezeki, menjaga hak sesama, serta pentingnya peran orang tua dalam membentuk generasi yang berakhlak.