KUA Bunguran Timur (Humas) – Memasuki awal tahun baru Islam di bulan Muharram, Kantor Urusan Agama (KUA) Kecamatan Bunguran Timur terus menunjukkan komitmen tinggi dalam memberikan pelayanan dan pembinaan keagamaan secara merata hingga ke wilayah pelosok. Penyuluh Agama Islam KUA Bunguran Timur, Melisya, hadir langsung untuk mengisi agenda pengajian rutin yang berlokasi di Masjid An-Nur, Singgang Bulan.
Kegiatan syiar rohani tersebut disambut dengan antusiasme yang tinggi dan diikuti oleh lebih dari 20 orang ibu-ibu jemaah setempat. Pada kesempatan kali ini, materi kajian difokuskan pada pembedahan literatur keislaman yang sangat kontekstual dengan momentum tahun baru hijriah, yakni mengkaji perkara mitos dan fakta seputar amalan-amalan di bulan Muharram. Langkah edukasi ini dinilai penting agar jemaah memiliki pemahaman fikih yang lurus dan terhindar dari pemahaman khurafat maupun tradisi yang tidak memiliki dasar syariat.
Di balik khidmatnya pelaksanaan pengajian tersebut, terdapat cerita dedikasi pelayanan yang luar biasa. Meskipun lokasi Masjid An-Nur Singgang Bulan berjarak cukup jauh, yakni sekitar 18 kilometer dari Kantor KUA Bunguran Timur, hal tersebut tidak menyurutkan langkah Melisya untuk hadir di tengah-tengah jemaah. Kehadiran penyuluh KUA ini sekaligus untuk memenuhi permintaan mendesak dari masyarakat setempat, mengingat ustaz yang sebelumnya rutin mengajar di masjid tersebut saat ini belum bisa hadir karena masih dalam proses pengobatan medis.
Secara terpisah, Kepala KUA Bunguran Timur, Asnawi, memberikan apresiasi mendalam atas kegigihan dan respons cepat yang ditunjukkan oleh jajarannya di lapangan.
"Tugas utama seorang penyuluh agama adalah menjadi suluh atau penerang di tengah masyarakat, tanpa menjadikan jarak geografis sebagai hambatan pelayanan. Kehadiran saudari Melisya di Singgang Bulan tidak hanya menyelamatkan keberlangsungan pengajian rutin yang sempat terkendala karena ustaz setempat sedang sakit, tetapi juga menjadi sarana dakwah yang efektif untuk meluruskan pemahaman umat terkait amalan bulan Muharram. Kami berharap dedikasi ini dapat terus memperkokoh ketahanan spiritual masyarakat Natuna," tegas Asnawi.
Pengajian rutin yang berlangsung dengan interaktif tersebut diakhiri dengan sesi tanya jawab seputar hukum fikih sehari-hari, dilanjutkan dengan doa bersama untuk kesembuhan guru mengaji jemaah sebelumnya agar dapat segera beraktivitas kembali.