“Di meja mediasi, saya sering menyaksikan pasangan yang datang bukan karena ada orang ketiga dalam arti harfiah. Tidak ada selingkuhan, tidak ada pihak luar yang mengganggu. Yang ada hanyalah dua orang yang sama-sama merasa paling benar dan seringkali, itulah awal dari keretakan.”

Ketika mendengar istilah orang ketiga, kebanyakan orang langsung teringat pada perselingkuhan. Padahal, dalam banyak rumah tangga, ada "orang ketiga" yang tak kasatmata tetapi sering kali lebih berbahaya. Ia adalah ego, keinginan untuk selalu benar, tak mau mengalah, dan sulit mengaku salah.

Dalam setiap prosesi akad nikah, selalu tampak wajah-wajah bahagia yang dipenuhi harapan. Ijab kabul hanya berlangsung beberapa menit, tetapi perjalanan setelahnya membutuhkan komitmen seumur hidup. Justru setelah akad itulah, ujian sesungguhnya dimulai. Dan sering kali, ujian terbesar bukan datang dari luar, melainkan dari dalam diri masing-masing.

Ironisnya, banyak konflik rumah tangga tidak bermula dari persoalan besar. Berbeda pendapat, pembagian tugas, atau kesalahpahaman kecil bisa berubah menjadi pertengkaran panjang karena tidak ada yang bersedia berkata, "Maaf ya, mungkin aku yang salah." Ketika ego berbicara, pasangan berubah dari teman hidup menjadi lawan yang harus dikalahkan.

Al-Qur'an mengingatkan bahwa tujuan pernikahan adalah menghadirkan sakinah, mawaddah, dan rahmah (QS. Ar-Rum: 21). Dalam Tafsir Al-Misbah dijelaskan bahwa ketenangan dalam rumah tangga lahir dari hubungan yang dibangun dengan kasih sayang dan saling melengkapi, bukan saling mendominasi. Allah SWT juga memuji orang-orang yang mampu menahan amarah dan memaafkan kesalahan orang lain (QS. Ali 'Imran: 134). Ayat ini mengajarkan bahwa kemenangan dalam rumah tangga bukanlah ketika kita berhasil memenangkan perdebatan, tetapi ketika kita mampu menjaga hati pasangan.

Rasulullah SAW bersabda, "Janganlah seorang mukmin membenci seorang mukminah. Jika ia tidak menyukai salah satu perangainya, niscaya ia akan menyukai perangainya yang lain." (HR. Muslim). Hadis yang juga dijelaskan dalam Riyadhus Shalihin ini mengajarkan agar kita melihat pasangan secara utuh, bukan hanya dari kekurangannya.

Ada satu pelajaran yang berulang dalam perjalanan banyak rumah tangga. Pasangan yang mampu bertahan bukanlah mereka yang tidak pernah berbeda pendapat. Mereka justru adalah pasangan yang mampu mengendalikan ego, saling mendengar, dan tidak gengsi meminta maaf lebih dahulu. Mereka memahami bahwa mengalah bukan berarti kalah, melainkan cara menjaga keutuhan keluarga.

Pada akhirnya, ancaman terbesar dalam pernikahan tidak selalu datang dari luar. Kadang ia hadir dalam bentuk ego yang perlahan mengikis komunikasi, menghapus empati, dan menjauhkan suami istri. Karena itu, sebelum menyalahkan pasangan, ada baiknya kita bercermin pada diri sendiri. Bisa jadi, "orang ketiga" yang selama ini kita cari ternyata adalah ego kita sendiri.

Rumah tangga yang sakinah bukan dibangun oleh dua orang yang selalu merasa benar, tetapi oleh dua orang yang sama-sama bersedia belajar, memperbaiki diri, dan menempatkan cinta di atas ego. Semoga kita mampu menjadikan pernikahan sebagai jalan meraih ridha Allah SWT, bukan sekedar ikatan dua insan, melainkan berjalan beriringan menuju surga-Nya. Wallahu a’lam bish-shawab.