KUA Bunguran Timur (Humas) – Kantor Urusan Agama (KUA) Kecamatan Bunguran Timur terus berkomitmen melakukan inovasi dalam program pemberantasan buta aksara Al-Qur'an di tengah masyarakat. Salah satu langkah konkret ditunjukkan melalui pendekatan kreatif yang diinisiasi oleh Penyuluh Agama Islam KUA Bunguran Timur, Kholijah Manurung dan Melisya, dalam membina jemaah ibu-ibu pengajian Al-Mukarromah, Penagi.
Pada Kamis (11/06/2026) lalu, mereka menerapkan metode perlombaan makharijul huruf (tempat keluarnya huruf-huruf hijaiyah) sebagai sarana evaluasi sekaligus pembelajaran yang menyenangkan. Langkah inovatif ini sengaja diambil untuk memotivasi dan mendongkrak semangat para ibu binaannya yang sebagian besar masih berada di tahapan awal mengenal huruf-huruf Al-Qur'an.
Suasana pengajian yang biasanya berjalan formal berubah menjadi dinamis dan penuh antusiasme. Melalui metode lomba ini, para jemaah ditantang secara interaktif untuk melafalkan huruf hijaiyah secara tepat sesuai kaidah tajwid. Pendekatan kompetisi yang suportif ini terbukti efektif menghilangkan rasa canggung dan takut salah bagi para ibu-ibu saat belajar membaca.
Penyuluh Agama KUA Bunguran Timur, Kholijah Manurung, menyampaikan bahwa inovasi metode mengajar ini didasari atas pentingnya membangun rasa percaya diri pada jemaah usia dewasa.
"Belajar Al-Qur'an di usia dewasa memiliki tantangan tersendiri, terutama rasa malu. Oleh karena itu, kami kemas dalam bentuk lomba sederhana agar suasananya ceria dan mereka semakin termotivasi. Target utama kami bukan sekadar mencari pemenang, melainkan menumbuhkan semangat konsistensi agar jemaah terbebas dari buta aksara Al-Qur'an secara bertahap," ungkap Kholijah.
Kegiatan bernilai positif ini mendapat sambutan yang sangat hangat dari seluruh jemaah pengajian Al-Mukarromah Penagi. Pihak KUA Bunguran Timur berharap, keberhasilan metode ini dapat terus dipertahankan dan diaplikasikan secara luas pada kelompok binaan lainnya.
Kepala KUA Bunguran Timur, Asnawi, turut memberikan apresiasi tinggi atas dedikasi dan kreativitas para penyuluhnya di lapangan. Menurutnya, peran aktif penyuluh yang mampu membaca kebutuhan psikologis jemaah adalah kunci sukses dari syiar Islam dan pelayanan keagamaan yang menyentuh seluruh lapisan masyarakat di Kabupaten Natuna.