KUA Bunguran Barat (Humas) — Bertambahnya usia membawa perubahan pada kekuatan fisik, tetapi tidak mengurangi kesempataseseorang untuk terus mendekatkan diri kepada Allah. Semangat inilah yang diangkat KUA Bunguran Barat melalui pembinaan keagamaan bertema “Terapi Ibadah dan Spiritualitas Lansia” bersama anggota Klub Prolanis Ikan Bawal di Rumah Pengajian Penyong, Selasa (15/9).
Kegiatan tersebut menghadirkan Kepala KUA Bunguran Barat, Dela Pulda, sebagai pemateri. Dalam penyampaiannya, ia mengajak para lansia untuk memahami bahwa ibadah tidak selalu harus dilakukan dengan aktivitas fisik yang berat. Islam memberikan ruang kemudahan bagi umat untuk beribadah sesuai kemampuan, kondisi kesehatan, dan kekuatan tubuh masing-masing.
“Usia lanjut bukan alasan untuk menjauh dari ibadah. Justru pada masa ini, kita dapat memperbanyak kedekatan kepada Allah melalui ibadah yang dilakukan sesuai kemampuan, dengan penuh keikhlasan dan tidak memaksakan kondisi fisik,” ungkap Pulda.
Menurutnya, ibadah yang ramah lansia perlu dipahami sebagai bentuk kasih sayang agama terhadap umat. Ketika kemampuan berdiri mulai berkurang, seseorang tetap dapat melaksanakan salat dengan cara yang diperbolehkan. Begitu pula ketika tubuh tidak lagi sekuat dahulu, aktivitas zikir, doa, membaca Al-Qur’an, bersedekah, membantu keluarga, serta menjaga hubungan baik dengan sesama tetap menjadi bagian dari amal kebaikan.
Penjelasan tersebut memberikan pemahaman bahwa nilai ibadah tidak hanya terletak pada bentuk gerakannya, tetapi juga pada niat, keikhlasan, dan kesungguhan hati dalam menjalankannya. Para lansia didorong untuk tidak merasa rendah diri atau menganggap keterbatasan fisik sebagai penghalang untuk memperoleh pahala dan keberkahan.
“Ibadah hendaknya menjadi sumber ketenangan, bukan beban bagi lansia. Ketika tubuh memiliki keterbatasan, maka cara beribadah dapat disesuaikan. Yang terpenting adalah tetap menjaga niat, menghadirkan hati, dan tidak meninggalkan hubungan dengan Allah,” jelasnya.
Selain membahas kemudahan dalam beribadah, materi juga mengajak peserta untuk menjadikan masa lanjut usia sebagai kesempatan memperbanyak rasa syukur. Setiap hari yang masih diberikan Allah dipandang sebagai peluang untuk memperbaiki diri, memohon ampunan, memperbanyak doa, serta meninggalkan teladan kebaikan bagi anak, cucu, dan lingkungan sekitar.
Dalam suasana pembinaan yang dekat dengan keseharian peserta, ibadah juga ditempatkan sebagai sarana menjaga ketenteraman batin. Lansia diharapkan dapat menjalani masa tua dengan lebih tenang, tidak larut dalam kekhawatiran, dan tetap memiliki semangat untuk beraktivitas sesuai kemampuan. Kedekatan spiritual diharapkan mampu menumbuhkan rasa percaya diri serta memperkuat penerimaan terhadap perubahan yang terjadi seiring bertambahnya usia.
Kegiatan tersebut turut diikuti staf Puskesmas Sedanau dan anggota Klub Prolanis Ikan Bawal. Kolaborasi ini menunjukkan bahwa perhatian terhadap lansia tidak hanya berkaitan dengan kesehatan jasmani, tetapi juga menyentuh kebutuhan rohani dan sosial. Pendekatan kesehatan dan pembinaan keagamaan dapat saling melengkapi dalam mendukung kualitas hidup para peserta.
Melalui kegiatan ini, KUA Bunguran Barat terus mengambil bagian dalam menghadirkan pembinaan umat yang menyentuh berbagai kelompok masyarakat, termasuk lansia. Pembinaan ibadah yang ramah usia diharapkan dapat membantu peserta tetap bersemangat menjalankan kewajiban agama, memperkuat hubungan dengan Allah, serta menjalani hari-hari dengan hati yang lebih tenteram dan penuh syukur.