Setiap
kali Tahun Baru Islam tiba, kata "hijrah" kembali menjadi tema yang
banyak diperbincangkan. Media sosial dipenuhi ucapan selamat Tahun Baru
Hijriah, masjid dan musala menggelar berbagai kegiatan keagamaan, sementara
masyarakat diajak untuk mengenang perjalanan Rasulullah saw. dari Makkah menuju
Madinah. Namun di balik peringatan tersebut, ada satu pertanyaan yang patut
direnungkan: sudahkah kita memahami makna hijrah yang sesungguhnya?
Bagi
sebagian orang, hijrah sering dimaknai sebagai perubahan penampilan, lingkungan
pergaulan, atau kebiasaan hidup. Padahal, hijrah yang paling mendasar bukanlah
perubahan yang tampak oleh mata, melainkan perubahan yang terjadi di dalam
diri. Hijrah sejati adalah perjalanan meninggalkan kebiasaan buruk menuju
kebiasaan baik, meninggalkan sifat tercela menuju akhlak mulia, serta
meninggalkan sikap yang menjauhkan diri dari Allah menuju kehidupan yang lebih
bermakna.
Peristiwa
hijrah Rasulullah saw. bukan sekadar perpindahan geografis dari Makkah ke
Madinah. Hijrah merupakan simbol perjuangan, pengorbanan, dan transformasi.
Dari peristiwa tersebut lahir masyarakat yang lebih kuat, lebih beradab, dan
lebih berkeadilan. Karena itu, makna hijrah tidak berhenti pada sejarah,
melainkan menjadi nilai yang relevan sepanjang zaman.
Rasulullah
saw. bersabda:
"Seorang
muhajir adalah orang yang meninggalkan apa yang dilarang oleh Allah." (HR. Bukhari).
Hadis
ini memberikan pemahaman bahwa ukuran hijrah tidak semata-mata terletak pada
perpindahan fisik, melainkan pada kemampuan seseorang meninggalkan perilaku
yang tidak diridhai Allah. Dalam kehidupan sehari-hari, hijrah dapat dimulai
dari hal-hal sederhana yang sering kali luput dari perhatian.
Mungkin
ada yang perlu berhijrah dari kebiasaan menunda pekerjaan menuju sikap
disiplin. Ada yang perlu berhijrah dari amarah menuju kesabaran. Ada yang perlu
berhijrah dari kebiasaan mengeluh menuju rasa syukur. Bahkan ada pula yang
perlu berhijrah dari prasangka buruk menuju sikap husnuzan terhadap sesama.
Di
era digital saat ini, makna hijrah juga menemukan relevansinya dalam cara kita
menggunakan teknologi. Tidak sedikit konflik, fitnah, dan perpecahan yang
bermula dari informasi yang tidak terverifikasi. Dalam konteks ini, hijrah
dapat dimaknai sebagai keberanian meninggalkan kebiasaan menyebarkan hoaks
menuju budaya tabayun, meninggalkan ujaran kebencian menuju komunikasi yang
santun, serta meninggalkan sikap mudah menghakimi menuju kebiasaan memahami dan
menghargai perbedaan.
Allah
Swt. berfirman:
"Sesungguhnya
Allah tidak akan mengubah keadaan suatu kaum sampai mereka mengubah keadaan
yang ada pada diri mereka sendiri."
(QS. Ar-Ra'd: 11).
Ayat
ini mengajarkan bahwa perubahan selalu dimulai dari dalam diri. Harapan akan
kehidupan yang lebih baik tidak cukup diwujudkan melalui keinginan semata,
tetapi harus dibarengi dengan keberanian untuk berbenah dan memperbaiki diri
secara terus-menerus.
Sayangnya,
hijrah yang paling sulit sering kali bukan hijrah dari suatu tempat ke tempat
lain, melainkan hijrah dari ego menuju kerendahan hati. Tidak mudah mengakui
kesalahan, meminta maaf, menahan amarah, atau menerima kritik dari orang lain.
Padahal perubahan-perubahan kecil itulah yang sesungguhnya menjadi fondasi bagi
lahirnya pribadi yang lebih dewasa dan berakhlak mulia.
Muharram
mengajarkan bahwa setiap manusia selalu memiliki kesempatan untuk memulai
lembaran baru. Tahun yang berganti seharusnya tidak hanya menjadi penanda
bertambahnya usia, tetapi juga momentum untuk mengevaluasi perjalanan hidup
yang telah dilalui. Sudahkah kita menjadi pribadi yang lebih baik dibanding
tahun sebelumnya? Sudahkah hubungan kita dengan Allah semakin dekat? Sudahkah
kehadiran kita membawa manfaat bagi orang lain?
Pertanyaan-pertanyaan
tersebut mungkin tidak selalu mudah dijawab. Namun justru dari proses
perenungan itulah lahir kesadaran untuk terus bertumbuh dan memperbaiki diri.
Pada
akhirnya, hijrah bukanlah perjalanan yang selesai dalam satu hari, satu bulan,
atau satu tahun. Hijrah adalah proses sepanjang hayat. Setiap hari manusia
dihadapkan pada pilihan untuk menjadi lebih baik atau tetap berada pada
kebiasaan yang sama. Karena itu, makna hijrah yang sesungguhnya bukan terletak
pada sejauh mana langkah kaki berpindah, melainkan sejauh mana hati dan
perilaku berubah menuju kebaikan.
Tahun
Baru Hijriah hendaknya menjadi pengingat bahwa perubahan besar selalu diawali
oleh langkah-langkah kecil yang dilakukan dengan sungguh-sungguh. Sebab hijrah
yang paling bermakna bukanlah yang terlihat oleh manusia, melainkan yang mampu
mendekatkan diri kepada Allah dan menjadikan kita pribadi yang lebih bermanfaat
bagi sesama.
Oleh:
Hariswati Rachmadani Putri