KUA Bunguran Utara (Humas) – Gema takbir mungkin baru saja mereda, dan aroma hidangan Idul Fitri masih tersisa di meja-meja warga. Namun bagi Nur Azizah, jeda perayaan bukanlah alasan untuk meliburkan pengabdian. Selasa (14/04/2026) malam, tepat setelah sang surya tenggelam dan jemaah Isya membubarkan diri, suasana di Desa Kelarik, Kecamatan Bunguran Utara, kembali hidup dengan lantunan ayat suci yang berirama.

Nur Azizah, Penyuluh Agama Islam fungsional pada Kantor Urusan Agama (KUA) Bunguran Utara, resmi memulai kembali rutinitas bimbingan tartil bagi anak-anak di wilayah perbatasan ini. Pertemuan malam itu menjadi penanda kembalinya ritme belajar mengajar setelah rehat sejenak selama periode akhir Ramadan dan cuti bersama Idul Fitri 1447 H.

Menjaga "Irama" di Tengah Euforia

Bagi Azizah, mengajarkan teknik Tartil bukan sekadar soal melafalkan huruf dengan benar, melainkan tentang menanamkan rasa cinta pada Al-Qur'an melalui keindahan irama.

"Anak-anak butuh konsistensi. Jika jeda libur terlalu lama, ritme dan teknik pernapasan yang sudah mereka pelajari bisa memudar. Malam ini adalah momentum untuk menyalakan kembali semangat itu," ujar Azizah di sela-sela kegiatannya.

Dengan telaten, ia menyimak satu per satu santri cilik yang duduk melingkar. Fokusnya bukan hanya pada makhraj (tempat keluarnya huruf), tetapi juga pada keselarasan nada yang menjadi ciri khas seni tartil. Di bawah lampu temaram khas beranda utara Nusantara, suara-suara mungil itu menyahut, mencoba meniru cengkok dan harakat yang dicontohkan sang guru.

Penyuluh sebagai Ujung Tombak

Kehadiran kembali Nur Azizah di tengah anak-anak bimbingannya mendapat apresiasi positif. Sebagai ujung tombak Kementerian Agama di wilayah kepulauan, peran penyuluh memang krusial dalam menjaga stabilitas pendidikan keagamaan di akar rumput.

Kepala KUA Bunguran Utara dalam kesempatan terpisah menyampaikan bahwa dedikasi para penyuluh seperti Nur Azizah adalah wajah asli Kemenag yang melayani.