KUA Bunguran Utara (Humas) --- Keheningan malam di Kecamatan Bunguran Utara, Kabupaten Natuna, mendadak syahdu oleh lantunan ayat-ayat suci Al-Qur'an. Ketika anak-anak lain sudah terlelap, sekelompok remaja yang tergabung dalam Kelompok Baitul Tartil justru sedang bersemangat memperdalam seni membaca kalam Ilahi.
Suasana hangat begitu terasa di ruang pembinaan pada Senin (01/06/2026) malam, tepat setelah ibadah salat Isya. Dipandu langsung oleh Nur Azizah Binti Muhammad Yakub, yang merupakan Penyuluh Agama Islam KUA Bunguran Utara, generasi muda ini tampak sangat antusias mengikuti bimbingan teknik membaca Al-Qur'an dengan irama tartil.
Fokus utama pelatihan malam itu adalah menguasai regulasi nada serta ketukan dalam pembacaan tartil. Dengan penuh kesabaran, Nur Azizah memberikan contoh konkret mengenai ketepatan makhraj dan panjang-pendeknya harakat, yang kemudian dipadukan secara selaras dengan irama.
Para peserta pun menyerap setiap instruksi dengan penuh konsentrasi. Wajah-wajah muda mereka tampak serius sekaligus takjub saat mencoba meniru cengkok serta dinamika suara yang dicontohkan oleh sang mentor.
"Belajar irama tartil itu bukan cuma biar enak didengar, tapi ini adalah cara kita menghormati setiap huruf Al-Qur'an dengan memenuhi hak-hak tajwidnya lewat lantunan yang indah," jelas Nur Azizah di sela-sela bimbingan.
Konsistensi KUA Bunguran Utara melalui tenaga penyuluhnya kini mulai membuahkan hasil yang positif. Pada sesi latihan tersebut, anak-anak menunjukkan perkembangan yang sangat pesat. Mereka tidak lagi pasif mendengarkan, melainkan sudah mampu mempraktikkan transisi antar-irama secara mandiri dan merdu.
Apresiasi tinggi datang dari Kepala KUA Bunguran Utara atas dedikasi para penyuluh yang tak kenal lelah memberikan pembinaan, bahkan hingga larut malam. Kegiatan positif ini diharapkan dapat membentengi moral generasi muda di daerah kepulauan dengan menanamkan rasa cinta yang mendalam terhadap Al-Qur'an.
Lewat wadah Kelompok Baitul Tartil ini, KUA Bunguran Utara menegaskan komitmennya untuk terus melahirkan generasi Qur'ani yang tidak hanya menguasai hukum tajwid secara fasih, tetapi juga mampu melantunkannya dengan keindahan seni bacaan yang menggetarkan hati.