Pernah menggulir beranda TikTok, lalu tiba-tiba merasa rumah tangga sendiri terasa kurang romantis, kurang glamor, kurang sempurna? atau yang belum punya pasangan mulai menyiapkan standar kebahagian dengan melihat konten Tiktok? Kalau pernah, kamu tidak sendirian.

TikTok telah menjelma menjadi semacam "standar tak tertulis" tentang seperti apa seharusnya sebuah keluarga yang bahagia. Video pasangan yang selalu mesra, konten pernikahan mewah yang viral, hingga keluarga yang tampak harmonis tanpa cela. Semuanya berputar dalam algoritma dan masuk ke benak kita tanpa kita sadari. Perlahan, layar kecil itu membentuk ekspektasi besar yang justru berpotensi merusak kebahagiaan nyata di dalam rumah kita sendiri.

Lalu Apa Masalah nya?

Masalahnya bukan soal TikTok-nya. Masalahnya adalah ketika kita mulai mengukur kebahagiaan keluarga berdasarkan apa yang tampak di layar, bukan apa yang terasa di dalam hati.

Tidak sedikit tulisan ilmiah menunjukkan bahwa paparan konten media sosial secara intens dapat memicu perbandingan sosial yang berujung pada turunnya harga diri, munculnya rasa iri, dan terbentuknya ekspektasi yang tidak realistis dalam hubungan. Di Indonesia sendiri, tren "Marriage is Scary" sempat viral di TikTok yang mengkampanyekan bahwa pernikahan itu menakutkan dan penuh beban. Sebagian isinya mungkin benar, tapi ketika dikonsumsi mentah-mentah oleh jutaan penonton muda, dampaknya serius. Banyak anak muda yang mulai kehilangan kepercayaan terhadap komitmen jangka panjang dalam pernikahan.

Kekhawatiran lebih kemduian hadir ketika tekanan untuk "layak ditonton publik" perlahan menggantikan nilai-nilai seperti Kejujuran, ketulusan, dan keintiman yang sesungguhnya jauh lebih penting dalam keluarga. Banyak pasangan yang lebih sibuk menampilkan kemesraan di depan kamera daripada membangun kehangatan yang nyata di balik layar.

Islam Sudah Lebih Dulu Memberikan Jawabannya

Jauh sebelum era TikTok, Islam telah menetapkan standar kebahagiaan keluarga yang tidak bergantung pada penilaian publik. Rasulullah SAW bersabda:

عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ، عَنِ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ: " ‌تُنْكَحُ ‌المَرْأَةُ لِأَرْبَعٍ: لِمَالِهَا وَلِحَسَبِهَا وَجَمَالِهَا وَلِدِينِهَا، فَاظْفَرْ بِذَاتِ الدِّينِ، تَرِبَتْ يَدَاكَ   

"Wanita itu dinikahi karena empat hal: karena hartanya, karena keturunannya, karena kecantikannya, dan karena agamanya. Maka pilihlah karena agamanya, niscaya engkau akan beruntung." (HR. Bukhari)

Hadits ini bukan hanya soal kriteria memilih pasangan. Ia adalah pernyataan tegas bahwa standar kebahagiaan sebuah hubungan tidak diukur dari harta, kecantikan, atau keturunan apalagi dari jumlah likes dan views. Fondasi yang sesungguhnya adalah agama yang kemudian melahirkan akhlak, dan ketakwaan.

Allah SWT juga telah meletakkan tujuan tertinggi sebuah keluarga dalam surah Ar-Rum ayat 21, bahwa pasangan hidup diciptakan agar kita menemukan ketenangan (sakinah), diiringi cinta (mawaddah) dan kasih sayang (rahmah). Ketiganya adalah hal-hal yang tidak bisa dipindahkan melalui layar ponsel, tidak bisa dipoles dengan filter kamera, dan tidak bisa diukur dari jumlah pengikut.

Nabi SAW bahkan menegaskan lebih jauh:

خَيْرُكُمْ خَيْرُكُمْ لأَهْلِهِ وَأَنَا خَيْرُكُمْ لأَهْلِى

"Sebaik-baik kalian adalah yang terbaik bagi keluarganya. Dan aku adalah yang terbaik bagi keluargaku." (HR. Tirmidzi)

Imam Al-Ghazali menjelaskan bahwa tolok ukur seseorang dalam Islam justru terletak pada bagaimana ia memperlakukan keluarganya, bukan pada apa yang ia tampilkan di depan orang lain. Ini adalah antitesis langsung dari budaya media sosial yang mengukur kebahagiaan rumah tangga dari tampilan semata.

Saatnya Kita FOMO yang Berbeda

Kita semua tahu FOMO (Fear of Missing Out ) yang sering diartikan rasa cemas karena takut tertinggal dari tren yang sedang ramai.  FOMO dalam media sosial sering membuat kita gelisah melihat kehidupan orang lain tampak lebih indah dari kehidupan kita. Tapi bagaimana jika kita balik maknanya?

Penulis menghadirkan FOMO versi baru: F.O.M.O (Focus On Mawaddah Only). Sebuah pengingat agar kita lebih takut kehilangan kebahagiaan sejati di dalam rumah kita sendiri, daripada sibuk mengejar standar bahagia milik orang lain di beranda TikTok.

Focus pada kebahagiaan keluarga, bukan linimasa orang lain.

Kebahagiaan yang hakiki bukan lahir dari tampilan, melainkan dari ketenangan batin. Islam mengajarkan bahwa ketenangan adalah nikmat yang hanya bisa hadir ketika kita mengurangi perbandingan sosial yang tidak perlu dan menanamkan syukur atas kehidupan yang kita jalani. Keluarga bukan konten yang harus dinilai publik, ia adalah ladang pahala yang diurus dengan konsisten, meski tidak ada satu pun yang menyaksikannya.

On track dengan prinsip Islam, bukan opini netizen.

TikTok penuh dengan "nasihat instan" tentang bagaimana menjadi pasangan ideal. Namun seringkali semua itu tidak sejalan dengan nilai Islam. Tuntunan membangun keluarga yang baik sudah lengkap dalam Al-Qur'an dan hadits seperti kejujuran, ketenangan, kesederhanaan, empati, dan tanggung jawab. Keluarga yang on track bukan keluarga yang paling disukai banyak orang, melainkan yang konsisten membangun rumah tangga menuju ridha Allah SWT.

Mawaddah / cinta aktif yang harus diperjuangkan setiap hari.

Dalam Islam, cinta bukan sekadar perasaan yang datang dan pergi. Mawaddah adalah cinta yang diwujudkan dalam tindakan nyata, mendengarkan pasangan berkeluh kesah, memaafkan kesalahan kecil tanpa memperbesar, membantu tanpa diminta, memelihara komunikasi bahkan ketika sedang tidak sepahaman. Cinta seperti ini tidak viral, tidak estetik di kamera. Tapi ia memiliki bobot yang kuat, sabar, dan membumi. Ini adalah cinta yang setiap hari memilih untuk mencintai orang yang sama, dalam keadaan yang berbeda-beda. Persis seperti yang diteladankan Rasulullah SAW.

Only Allah validasi kebahagiaan keluarga.

Pada akhirnya, satu-satunya validasi yang benar-benar bermakna hanya datang dari Allah SWT. Bukan dari komentar warganet, bukan dari jumlah views, bukan dari seberapa banyak yang meng-share konten rumah tangga kita. Ketika hanya Allah yang menjadi tujuan, maka tantangan zaman sebesar apapun tidak lagi terasa sebagai beban yang menghancurkan, melainkan sebagai warna yang memperkuat.

Rumah Bukan Panggung, Tapi Ruang Sakral. Media sosial seperti TikTok tidak sepenuhnya negatif. Ia bisa menjadi alat dakwah, pengingat moral, bahkan sarana mempererat ikatan spiritual keluarga jika digunakan dengan bijak dan penuh literasi. Menjadi berbahaya ketika kita membiarkan layar menentukan arah rumah tangga kita. Ketika standar kebahagiaan diambil dari tren, bukan dari tuntunan. Ketika kita lebih takut dianggap kurang bahagia oleh penonton, daripada takut benar-benar tidak bahagia di dalam rumah kita sendiri.

Sorot kamera bisa memukau siapa saja. Tapi realita cinta yang lahir dari nilai-nilai hadits, itulah yang benar-benar menguatkan. Maka, jadikan rumah tangga sebagai ruang sakral yang berisi cinta, kesabaran, dan iman yang nyata. Bukan panggung publik yang menuntut kesempurnaan. Karena keluarga yang kuat bukan yang paling indah di layar melainkan yang paling tulus di baliknya.

"Sorot media bisa memukau, tapi realita cinta yang lahir dari nilai hadits justru menguatkan."

Rahmani, S.H