KUA Bunguran Utara (Humas)– Matahari tepat berada di puncaknya di atas langit Bunguran Utara, Rabu (15/4/2026). Suhu udara yang menyengat seolah memanggang aspal jalanan menuju Kantor Urusan Agama (KUA) Kecamatan Bunguran Utara. Namun, di tengah hawa panas yang meranggas, derap langkah kecil sekumpulan anak-anak justru terlihat antusias menuju sebuah bangunan sederhana yang menjadi oase spiritual mereka.
Siang itu, Nur Azizah Binti Muhammad Yakub, Penyuluh Agama KUA Bunguran Utara, sudah bersiap. Di tangannya, mushaf Al-Qur'an terbuka, menanti para santri ciliknya yang datang untuk satu tujuan: mengasah seni membaca kalam Ilahi.
Melawan Cuaca dengan Semangat
Bagi masyarakat pesisir di Natuna, cuaca ekstrem adalah kawan lama. Namun, bagi anak-anak ini, semangat belajar tilawah jauh lebih membara dibanding terik yang menyengat kulit. Satu per satu mereka memasuki ruangan, menyalami sang guru dengan takzim, lalu duduk melingkar merapikan barisan.
"Cuaca memang sangat terik hari ini, tapi melihat wajah-wajah antusias mereka, rasa lelah dan panas itu seolah menguap begitu saja," ujar Nur Azizah di sela-sela kegiatannya membimbing teknis makhrijul huruf dan irama tilawah.
Dedikasi Tanpa Batas
Nur Azizah bukan sekadar menjalankan tugas administratif sebagai penyuluh. Baginya, membimbing kelompok tilawah adalah investasi peradaban di beranda utara Indonesia. Ia dengan telaten memperbaiki liukan suara (naghom) para siswa, memastikan setiap tajwid terjaga dengan sempurna di tengah deru angin laut yang sesekali masuk melalui jendela KUA.
Bagi KUA Bunguran Utara, kehadiran kelompok tilawah ini adalah bukti bahwa kantor urusan agama bukan sekadar tempat mengurus administrasi pernikahan, melainkan pusat syiar dan bimbingan umat yang hidup.
Oase di Beranda Utara
Kegiatan rutin setiap Rabu ini menjadi pemandangan yang menyejukkan. Di saat remaja lain mungkin memilih berlindung di dalam rumah menghindari panas, anak-anak ini justru memilih berjibaku dengan debu dan terik demi kefasihan melafalkan ayat-ayat suci.
Dedikasi Nur Azizah dan ketekunan anak-anak Bunguran Utara adalah narasi nyata bahwa di ujung utara negeri, cahaya Al-Qur'an tetap berpendar terang, melampaui panasnya cuaca dan terbatasnya sarana. Mereka adalah penjaga tradisi literasi Qur'ani yang tumbuh subur di tanah Melayu.