KUA Bunguran Barat (HUMAS) – Persiapan menuju pernikahan tidak cukup hanya dengan kesiapan administrasi dan prosesi akad, tetapi juga memerlukan bekal pengetahuan untuk membangun kehidupan rumah tangga yang harmonis dan berketahanan. Berangkat dari semangat tersebut, Kantor Urusan Agama (KUA) Bunguran Barat kembali melaksanakan Bimbingan Perkawinan (Bimwin) bagi tiga pasang calon pengantin asal Kelurahan Sedanau di Balai Nikah KUA Bunguran Barat pada Selasa (7/7).
Kegiatan menghadirkan
tiga fasilitator Bimbingan Perkawinan, yakni Hariswati Rachmadani Putri,
Harjono, dan Aris Munandar. Materi disampaikan secara interaktif sesuai silabus
Bimbingan Perkawinan Kementerian Agama dengan pendekatan yang dekat dengan dinamika
kehidupan rumah tangga masa kini.
Pada sesi pertama,
peserta dibekali keterampilan membangun komunikasi yang sehat sebagai fondasi
utama kehidupan berkeluarga. Calon pengantin diajak memahami pentingnya saling
mendengarkan, menghargai perbedaan pendapat, mengendalikan emosi, serta menyelesaikan
konflik melalui musyawarah tanpa saling menyalahkan.
Fasilitator Bimbingan
Perkawinan, Hariswati Rachmadani Putri, menjelaskan bahwa kemampuan
berkomunikasi merupakan salah satu faktor penting dalam menjaga keharmonisan
rumah tangga.
"Konflik dalam
rumah tangga adalah sesuatu yang wajar. Yang membedakan keluarga yang kuat
dengan yang rapuh bukan ada atau tidaknya konflik, melainkan bagaimana pasangan
mampu mengelolanya dengan komunikasi yang baik, saling menghargai, dan mencari
solusi bersama," jelasnya.
Sementara itu, Harjono
menyampaikan materi mengenai manajemen keuangan keluarga. Ia mengajak para
calon pengantin untuk membangun kebiasaan mengelola pendapatan secara
bijaksana, menyusun skala prioritas kebutuhan, membedakan antara keinginan dan
kebutuhan, serta membiasakan budaya menabung sebagai bentuk ikhtiar menjaga
ketahanan ekonomi keluarga.
"Keuangan yang
dikelola secara terbuka dan direncanakan bersama akan mengurangi potensi
konflik dalam rumah tangga. Karena itu, suami dan istri perlu membangun
komitmen untuk saling jujur, disiplin, dan bertanggung jawab dalam mengelola
rezeki yang Allah titipkan," ungkap Harjono.
Pada sesi berikutnya,
Aris Munandar membawakan materi tentang pembentukan Generasi Emas Indonesia
melalui keluarga yang berkualitas. Ia menekankan bahwa keluarga merupakan
lingkungan pendidikan pertama dan utama bagi anak sehingga orang tua memiliki
peran strategis dalam membentuk karakter, akhlak, dan kualitas generasi penerus
bangsa.
"Generasi emas
tidak lahir secara kebetulan. Mereka tumbuh dari keluarga yang menghadirkan
kasih sayang, pendidikan, keteladanan, dan nilai-nilai agama dalam kehidupan
sehari-hari. Karena itu, membangun keluarga yang kuat hari ini berarti sedang
mempersiapkan masa depan bangsa," paparnya.
Kepala KUA Bunguran
Barat, Dela Pulda, menyampaikan bahwa Bimbingan Perkawinan merupakan bentuk
komitmen Kementerian Agama dalam membekali calon pengantin agar memiliki
kesiapan mental, emosional, spiritual, dan sosial sebelum memasuki kehidupan
berumah tangga.
"Melalui
Bimbingan Perkawinan, kami ingin setiap pasangan memiliki bekal yang utuh,
mulai dari kemampuan berkomunikasi, mengelola ekonomi keluarga, hingga
mempersiapkan diri menjadi orang tua yang mampu melahirkan generasi yang sehat,
berkarakter, dan berdaya saing. Dengan demikian, keluarga yang dibangun
benar-benar menjadi keluarga sakinah, mawaddah, wa rahmah," ujarnya.
Kegiatan berlangsung
dengan antusias. Para peserta aktif berdiskusi, menyampaikan pengalaman, serta
mengajukan pertanyaan terkait tantangan yang mungkin dihadapi setelah menikah.
Melalui pembinaan yang dilakukan secara berkelanjutan, KUA Bunguran Barat terus
memperkuat perannya sebagai pusat layanan dan pembinaan keluarga, sekaligus
mendukung terwujudnya keluarga berkualitas sebagai fondasi lahirnya generasi
emas Indonesia.