KUA Bunguran Barat (HUMAS) – Mempersiapkan kehidupan rumah tangga tidak cukup hanya dengan kesiapan melangsungkan akad nikah. Pengetahuan tentang komunikasi, pengelolaan konflik, kesehatan keluarga, hingga perencanaan keuangan menjadi bekal penting bagi pasangan sebelum memasuki kehidupan berumah tangga. Hal tersebut menjadi bagian dari materi Bimbingan Perkawinan (Bimwin) yang dilaksanakan KUA Bunguran Barat, Selasa (18/8).

Kegiatan yang berlangsung di KUA Bunguran Barat tersebut diikuti oleh sepasang calon pengantin asal Midai, Nur Anisa dan Windra. Materi diberikan oleh tiga fasilitator Bimwin KUA Bunguran Barat, yakni Hariswati Rachmadani Putri, Harjono, dan Aris Munandar.

Dalam kegiatan tersebut, calon pengantin mendapatkan pembekalan yang dekat dengan kehidupan sehari-hari. Materi disampaikan sesuai dengan silabus Bimbingan Perkawinan yang telah ditetapkan, dengan menekankan pentingnya membangun komunikasi yang sehat, mengelola perbedaan dan konflik, merencanakan keuangan keluarga, serta memahami kesehatan reproduksi.

Kepala KUA Bunguran Barat, Dela Pulda, mengatakan bahwa Bimwin merupakan bagian penting dalam mempersiapkan pasangan menghadapi kehidupan rumah tangga yang sesungguhnya.

Bimbingan perkawinan ini jangan dipandang sebagai formalitas sebelum melangsungkan pernikahan. Justru di sinilah calon pengantin dibekali dengan pengetahuan yang akan mereka hadapi setelah akad. Kita ingin mereka tidak hanya siap menjadi pasangan dalam pernikahan, tetapi juga siap berkomunikasi, menyelesaikan persoalan, mengelola keuangan, dan membangun keluarga yang sehat,” ujar Dela Pulda.

Menurutnya, pasangan calon pengantin perlu memahami bahwa kehidupan rumah tangga akan mempertemukan dua pribadi dengan latar belakang, kebiasaan, dan cara berpikir yang mungkin berbeda. Karena itu, kemampuan berkomunikasi dan menyelesaikan persoalan secara sehat menjadi salah satu bekal penting.

Bimwin menjadi ruang bagi calon pengantin untuk tidak hanya mempersiapkan pernikahan sebagai sebuah acara, tetapi juga mempersiapkan diri menjalani kehidupan setelah akad. Pemahaman tersebut diharapkan dapat membantu pasangan membangun keluarga yang harmonis sekaligus menjadi bagian dari upaya menekan potensi konflik dan perceraian.

Kita berharap ilmu yang diperoleh hari ini benar-benar dibawa pulang dan dipraktikkan. Karena keluarga yang kuat tidak terbentuk hanya karena akad, tetapi dibangun setiap hari melalui komunikasi, kesabaran, tanggung jawab, dan komitmen untuk saling menjaga,” tambahnya.

Melalui pembinaan yang diberikan, calon pengantin juga diarahkan untuk memahami bahwa keluarga merupakan tempat pertama dalam membentuk karakter dan mempersiapkan generasi berkualitas.

Dengan pembekalan tersebut, Nur Anisa dan Windra diharapkan dapat memasuki kehidupan rumah tangga dengan kesiapan pengetahuan, mental, dan komitmen untuk saling mendukung dalam membangun keluarga yang harmonis dan berkualitas.