KUA Bunguran Utara (Humas) --- Di tengah suasana khidmat Desa Kelarik, semangat syiar Islam terpancar dari rutinitas spiritual warga. Penyuluh Agama Islam Fungsional KUA Kecamatan Bunguran Utara, Nur Azizah Binti Muhammad Yakub, hadir memberikan siraman rohani dalam agenda wirid rutin Majelis Taklim Permata pada Sabtu (02/05/2026).

Kegiatan yang dipusatkan di pemukiman warga Desa Kelarik ini menjadi magnet bagi para ibu-ibu anggota majelis taklim untuk memperdalam pemahaman agama. Dalam kesempatan tersebut, Nur Azizah membawakan tema tausiyah yang filosofis namun aplikatif, yakni "Arsitektur Jiwa: Menemukan Penawar dalam Ketetapan Allah."

Membangun Ketahanan Mental Islami

Dalam paparannya, Nur Azizah menjelaskan bahwa jiwa manusia layaknya sebuah bangunan. Agar kokoh menghadapi badai ujian kehidupan, ia memerlukan fondasi iman yang kuat dan rancang bangun (arsitektur) yang tepat.

"Seringkali kita merasa lelah dan kecewa karena ekspektasi kita tidak sejalan dengan realitas. Di sinilah arsitektur jiwa berperan. Kita harus membangun ruang ikhlas dan rida di dalam hati sebagai penawar atas segala ketetapan Allah," ujar Nur Azizah di hadapan jamaah.

Ia menekankan bahwa memahami takdir bukanlah bentuk kepasrahan yang pasif, melainkan sebuah strategi spiritual untuk menjaga kesehatan mental dan ketenangan batin. Menurutnya, setiap ketetapan Allah—baik yang manis maupun yang pahit—mengandung hikmah yang dirancang khusus untuk mendewasakan jiwa hambanya.

Penyuluhan Berbasis Kedekatan Umat

Kehadiran penyuluh agama di tengah masyarakat pedesaan seperti di Desa Kelarik merupakan bagian dari komitmen Kantor Urusan Agama (KUA) Bunguran Utara untuk terus melakukan pendampingan keagamaan secara konsisten.

"Tugas kami bukan sekadar menyampaikan teks agama, tetapi memastikan nilai-nilai tersebut menjadi 'obat' dan solusi bagi problematika yang dihadapi masyarakat sehari-hari," tambah Nur Azizah.

Acara wirid rutin ini ditutup dengan doa bersama dan sesi dialog interaktif. Para jamaah tampak antusias menggali lebih dalam mengenai cara-cara praktis menjaga konsistensi ibadah di tengah kesibukan domestik.

Melalui kegiatan ini, diharapkan Majelis Taklim Permata tidak hanya menjadi wadah silaturahmi, tetapi juga menjadi pusat literasi keagamaan yang mampu mencetak pribadi-pribadi dengan "arsitektur jiwa" yang tangguh dan selalu terpaut pada rida Illahi.