Hari Raya Idul Adha bukan sekadar perayaan penyembelihan hewan kurban. Di balik syariat itu, terdapat pelajaran besar tentang Al-Istislamu Lillah — berserah diri sepenuhnya kepada Allah SWT.

Kisah Nabi Ibrahim AS dan keluarganya menjadi gambaran nyata tentang kepatuhan tanpa syarat kepada Tuhan. Ketika Allah memerintahkan Nabi Ibrahim untuk meninggalkan istrinya, Siti Hajar, dan putranya, Ismail, di lembah tandus yang gersang, Ibrahim melaksanakan perintah itu tanpa banyak bertanya.

Namun di tengah perjalanan, Siti Hajar merasa heran. Di tempat tandus tanpa manusia, tanpa air, dan tanpa kehidupan, Ibrahim justru bersiap meninggalkan mereka. Dengan hati penuh tanda tanya, Hajar memanggil:

“Wahai Ibrahim, apakah engkau tega meninggalkan kami di tempat seperti ini?”

Nabi Ibrahim diam. Langkahnya tetap berjalan.

Siti Hajar kembali bertanya:

“Apakah ini perintah dari Allah?”

Dengan suara pelan dan hati yang berat, Nabi Ibrahim menjawab:

“Iya.”

Mendengar jawaban itu, Siti Hajar tidak marah, tidak mengeluh, dan tidak menyalahkan keadaan. Dengan penuh keyakinan beliau berkata:

“Kalau begitu, Allah tidak akan menelantarkan kami.”

Kalimat singkat itu menjadi bukti ketundukan dan keimanan yang luar biasa. Hajar mengajarkan bahwa ketika Allah yang memerintah, maka keyakinan harus lebih besar daripada rasa takut.

Kemudian datang ujian terbesar berikutnya. Nabi Ibrahim diperintahkan menyembelih putra yang sangat dicintainya, Nabi Ismail AS. Sebuah ujian yang mengguncang hati seorang ayah. Namun Ibrahim tetap tunduk kepada Allah.

Yang lebih mengagumkan, Nabi Ismail juga menerima perintah itu dengan penuh keikhlasan. Tidak memberontak dan tidak menolak. Ismail berkata:

“Wahai ayahku, kerjakanlah apa yang diperintahkan kepadamu. InsyaAllah engkau akan mendapatiku termasuk orang-orang yang sabar.”

Inilah makna besar Idul Adha. Bahwa keimanan sejati bukan hanya ketika perintah Allah sesuai dengan keinginan kita, tetapi juga ketika perintah itu terasa berat bagi hati manusia.

Di zaman hari ini, semangat Al-Istislamu Lillah menjadi pelajaran penting. Banyak manusia ingin dekat kepada Allah, tetapi masih memilih-milih perintah Tuhan. Mau taat ketika mudah, namun enggan tunduk ketika harus berkorban.

Padahal, hakikat seorang hamba adalah patuh kepada Allah dalam segala keadaan.

Idul Adha mengajarkan bahwa pengorbanan bukan hanya tentang menyembelih hewan kurban, tetapi juga menyembelih ego, kesombongan, dan hawa nafsu yang menjauhkan manusia dari Allah SWT.

Semoga semangat Nabi Ibrahim, keteguhan Siti Hajar, dan kepatuhan Nabi Ismail menjadi teladan bagi kita semua untuk terus belajar tunduk, taat, dan berserah diri hanya kepada Allah SWT.