MAN 1 Natuna (Humas) — Kafilah Kabupaten Natuna berhasil menorehkan tinta emas dalam ajang Musabaqah Tilawatil Quran (MTQ) tingkat Provinsi yang digelar di Tanjung Pinang. Diwakili oleh tiga siswi berprestasi dari Madrasah Aliyah Negeri (MAN) 1 Natuna, tim Fahmil Putri sukses mencetak sejarah baru setelah melaju hingga babak final dan menyabet gelar Juara 3.

Ketiga siswi tangguh tersebut adalah Azka Amelia Sarah, Nurul Nabillah, dan Aisya Iffa Naviella. Perjuangan mereka membawa nama Kontingen Natuna di podium juara menjadi pencapaian luar biasa yang belum pernah diraih sebelumnya untuk kategori ini.

Rasa bangga dan haru tak bisa disembunyikan oleh para peserta. Bagi mereka, medali yang diraih merupakan buah manis dari perjuangan panjang yang menguras tenaga dan pikiran.

"Tentunya kami merasa sangat bangga karena kami berhasil mencetak sejarah baru dalam fahmil putri dari Kabupaten Natuna yang berhasil lolos ke babak final hingga mendapatkan juara ke-3," ungkap perwakilan tim Fahmil Putri Natuna usai perlombaan.

Kesuksesan ini tidak diraih secara instan. Ketiganya harus melewati proses latihan yang super ketat, mulai dari menguasai materi, mengasah kecepatan, hingga simulasi mental bertanding.

"Dibalik kesuksesan yang akhirnya kami dapat di ajang MTQ ini, tentunya kami telah menempuh tantangan yang begitu besar sehingga membawa kami sampai ke kejuaraan ini. Berbagai suka duka telah kami lewati mulai dari menghafal soal-soal yang tak terhitung jumlahnya, melatih ketangkasan dalam menjawab soal, simulasi, hingga selesai melaksanakan lomba. Dan pada akhirnya semua usaha itu terbayarkan untuk kami bertiga," lanjut mereka.

Selain kerja keras, mereka juga menekankan bahwa benteng spiritual berupa doa dari keluarga menjadi faktor penentu kemenangan ini. "Dibalik kesuksesan itu semua, tentunya kami juga selalu mendapatkan dukungan lebih dari orang tua dan keluarga kami, orang-orang yang selalu mendoakan kami sampai pada akhir dari perlombaan ini."

Digembleng dari Nol Tanpa Pengalaman Kompetisi

Keberhasilan ini terasa kian dramatis jika melihat latar belakang persiapan tim. Pelatih sekaligus ofisial tim Fahmil Putri Natuna, Alvi Yandri, S.Ud., Gr., membeberkan bahwa anak-anak asuhannya harus berjuang melompati keterbatasan karena ditiadakannya seleksi di tingkat kabupaten.

"Saya tentunya sangat bangga dengan pencapaian yang luar biasa ini terutama dari tim fahmil putri yang sudah berjuang sangat keras mulai dari latihan TC (Training Center) 1 dan 2 hingga sampai di Tanjung Pinang," kata Alvi.

Alvi menceritakan bagaimana mental ketiga siswi MAN 1 Natuna ini ditempa dari dasar. Tanpa modal pengalaman bertanding, mereka langsung dihadapkan dengan rival-rival tangguh se-provinsi.

"Mereka diasah dari 0 tanpa adanya MTQ tingkat kabupaten, tentunya akan sangat terasa sulit. Tanpa adanya pengalaman, mereka langsung terjun ke tingkat provinsi untuk melawan orang-orang terbaik dari kabupaten mereka dan Alhamdulillah-nya bisa lolos hingga babak final," tambahnya dengan nada penuh syukur.

Optimisme SDM Natuna Menuju Generasi Qur'ani

Prestasi gemilang ini diharapkan menjadi pemantik semangat bagi putra-putri daerah Natuna lainnya untuk tidak minder bersaing di level yang lebih tinggi. Tim Fahmil Putri MAN 1 Natuna sendiri berharap estafet juara ini tidak berhenti di mereka.

"Kami berharap semoga kedepannya akan ada penerus baru yang bisa memberikan lebih baik lagi dari kami," harap ketiga siswi tersebut.

Pesan senada juga ditekankan oleh sang pelatih. Alvi meyakini bahwa wilayah pulau terdepan seperti Natuna sebenarnya menyimpan potensi luar biasa yang tidak kalah dengan daerah perkotaan.

"Untuk generasi selanjutnya, perbanyaklah berlatih terutama putra-putri daerah Natuna, karena sebenarnya daerah kita tidak kekurangan SDM sehingga sangat memungkinkan bagi kita untuk bersaing di tingkat provinsi bahkan nasional sekalipun. Oleh karena itu mari sama-sama kita bangun generasi muda ini untuk bisa menjadi generasi qur'ani," tegas Alvi.

Sebagai penutup yang menggambarkan bagaimana kerasnya proses penggemblengan tim hingga mencetak sejarah baru bagi Kontingen Natuna, Alvi membagikan sebuah prinsip yang selalu ia tanamkan:

"Bisa karena biasa, biasa karena terpaksa.