“Sebagian orang meminta maaf bukan karena sadar, tapi karena tradisi.”


Kalimat ini sering kali muncul setiap hari raya tiba. Ucapan “mohon maaf lahir dan batin” bertebaran di ruang keluarga, di pesan singkat, hingga jejaring media sosial. Ia menjadi semacam ritual tahunan yang hampir semua orang lakukan. Namun di balik itu, muncul pertanyaan: apakah semua permintaan maaf itu benar-benar lahir dari kesadaran hati, atau sekadar mengikuti arus tradisi?

 

Pertanyaan ini wajar terlintas di benak kita. Karena tidak semua orang berada pada titik kesadaran yang sama. Ada yang benar-benar merenung, mengingat kesalahan, kemudian dengan tulus memohon maaf. Namun tak sedikit yang sekadar “mengikuti moment”, dan mengucapkannya karena telah menjadi kebiasaan yang diwariskan dari tahun ke tahun.

 

Namun, pertanyaan selanjutnya, apakah karena itu tradisi maaf lahir batin kehilangan maknanya? Justru sebaliknya.

 

Dalam konteks kehidupan sosial dan keagamaan, tradisi hari raya bukan hanya tentang perayaan, namun juga tentang rekonsiliasi. Ia menjadi ruang kolektif bagi masyarakat untuk membersihkan relasi, baik yang tampak maupun yang tersembunyi. Tidak semua orang mampu memulai percakapan sulit seperti meminta maaf tanpa alasan yang “mengundang”. Dalam hal ini, hari raya menjadi alasannya.

 

Ucapan maaf lahir batin, meskipun terkadang terdengar sederhana dan berulang, sejatinya mengandung makna yang dalam. “Lahir” merujuk pada kesalahan yang tampak, yang mungkin pernah melukai secara nyata. Sedangkan “batin” menyentuh ranah yang jauh lebih halus, yaitu, prasangka, niat buruk, atau perasaan yang tidak pernah terucap. Sehingga tradisi ini, jika dimaknai dengan benar, justru mengajarkan totalitas dalam memperbaiki hubungan.

 

Dalam ajaran Islam, nilai memaafkan dan memperbaiki hubungan sangat ditekankan. Allah SWT berfirman:

“...dan hendaklah mereka memaafkan dan berlapang dada. Apakah kamu tidak ingin bahwa Allah mengampunimu?” (QS. An-Nur: 22)

 

Ayat ini memberikan dorongan moral yang kuat: memaafkan orang lain adalah bagian dari harapan kita untuk mendapatkan ampunan Allah. Dalam konteks hari raya, tradisi saling memaafkan menjadi implementasi nyata dari nilai ini—bukan hanya sebagai simbol, tetapi sebagai praktik sosial yang hidup.

 

Rasulullah SAW juga bersabda:

“Tidak halal bagi seorang Muslim mendiamkan saudaranya lebih dari tiga hari...” (HR. Bukhari dan Muslim)

 

Hadis ini sejalan dengan semangat hari raya sebagai momentum untuk mengakhiri jarak dan memulihkan hubungan. Tradisi maaf lahir batin menjadi sarana efektif untuk memutus rantai diam yang berkepanjangan, membuka kembali komunikasi yang sempat terhenti.

 

Bahkan jika kita melihat lebih dalam, tradisi ini memiliki dimensi psikologis dan spiritual yang kuat. Tidak semua orang mampu mengungkapkan penyesalan secara spontan. Ego, rasa canggung, atau luka lama sering kali menjadi penghalang. Namun ketika budaya kolektif “mewajibkan” kita untuk saling memaafkan di hari raya, beban itu menjadi lebih ringan. Ada ruang aman yang membuat orang berani memulai. 

 

Dalam hadis lain, Rasulullah SAW bersabda:

"Tidaklah seseorang merendahkan diri karena Allah, melainkan Allah akan mengangkat derajatnya.” (HR. Muslim)

 

Meminta maaf, meskipun awalnya karena tradisi, ia menjadi latihan kerendahan hati. Ia melatih jiwa untuk menundukkan ego. Dan dari latihan yang berulang setiap tahun itulah, keikhlasan bisa tumbuh. Apa yang awalnya formalitas, perlahan bisa menjadi kesadaran.

 

Di sinilah kita perlu bersikap adil dalam melihat tradisi. Mengkritik tentu diperbolehkan, tetapi tidak sampai menafikan nilai. Tradisi maaf lahir batin di hari raya bukanlah sesuatu yang kosong, melainkan wadah yang bisa diisi dengan makna. Ia adalah pintu, dan masing-masing orang memiliki pilihan, apakah akan melewatinya dengan sekadar formalitas, atau dengan penuh kesungguhan hati.

 

Yang perlu dijaga bukanlah sekadar keberlangsungan tradisinya, tetapi juga kedalaman maknanya. Agar ucapan maaf lahir batin tak hanya berhenti di bibir saja, namun juga menyentuh hingga ke sanubari. Agar silaturahmi tidak hanya menjadi rutinitas tahunan, tetapi benar-benar menjadi sarana memperbaiki diri dan hubungan. 

 

Karena pada akhirnya, tidak semua keikhlasan lahir secara tiba-tiba. Ada yang tumbuh perlahan dari kebiasaan, dari momen yang berulang, dari tradisi yang terus dihidupkan. Dan selama tradisi maaf lahir batin di hari raya mampu mendekatkan yang jauh, melembutkan yang keras, serta membuka kembali pintu-pintu yang sempat tertutup, maka ia bukanlah sekadar tradisi. Ia adalah jalan. Jalan menuju hati yang lebih lapang, dan mungkin saja menuju keikhlasan yang selama ini kita cari.


Oleh : Hariswati Rachmadani Putri