KUA Bunguran Barat (HUMAS) — Menjaga kesehatan di usia lanjut bukan hanya tentang mengontrol kondisi tubuh, tetapi juga memastikan hati tetap tenang, pikiran tetap terjaga dan kehidupan spiritual terus bertumbuh. Semangat itulah yang menjadi bagian dari penutupan rangkaian enam kegiatan Prolanis Puskesmas Sedanau melalui pembinaan “Terapi Ibadah dan Spiritualitas Lansia” yang menghadirkan KUA Bunguran Barat di Gedung Serba Guna Kecamatan Bunguran Barat, Kamis (17/9).

Kegiatan Prolanis Klub Hipertensi Ikan Bilis tersebut diikuti para peserta Prolanis dan staf Puskesmas Sedanau. Kepala KUA Bunguran Barat, Dela Pulda, hadir sebagai pengisi materi dengan memberikan penguatan keagamaan yang diarahkan pada bagaimana lansia dapat menjaga ketenangan hati dan tetap memiliki aktivitas spiritual yang bermakna dalam kehidupan sehari-hari.

Kegiatan ini sekaligus menjadi penutup dari enam rangkaian kegiatan Prolanis yang dilaksanakan Puskesmas Sedanau sejak pekan sebelumnya. Rangkaian tersebut menjadi ruang pelayanan bagi peserta untuk memperoleh perhatian terhadap kesehatan sekaligus mendapatkan penguatan dari sisi sosial dan spiritual.

Dalam materinya, Pulda mengajak peserta menjadikan Al-Qur’an sebagai bagian dari terapi spiritual. Menurutnya, membaca maupun mendengarkan lantunan Al-Qur’an dapat menjadi aktivitas sederhana yang dilakukan secara rutin untuk menjaga kedekatan dengan Allah SWT.

“Al-Qur’an jangan hanya kita baca ketika ada kegiatan keagamaan. Jadikan membaca dan mendengarkan Al-Qur’an sebagai bagian dari keseharian. Tidak harus banyak, meskipun hanya beberapa ayat, yang penting dilakukan dengan rutin. Karena Al-Qur’an bukan hanya memberikan pahala ketika dibaca, tetapi juga menjadi pengingat dan penenang hati,” ujar Pulda.

Selain terapi Al-Qur’an, Pulda menekankan pentingnya silaturahmi bagi lansia. Menurutnya, tetap berinteraksi dengan keluarga, tetangga, jamaah dan lingkungan sosial dapat membantu lansia tetap merasa memiliki peran dan tidak terisolasi dari kehidupan masyarakat.

“Jangan merasa bahwa ketika sudah lanjut usia kita tidak lagi mempunyai peran. Tetaplah bersilaturahmi, datang ke masjid, mengikuti pengajian atau kegiatan keagamaan sesuai kemampuan. Bertemu dengan orang lain, berbagi cerita dan berbagi kebaikan juga merupakan aktivitas yang bernilai ibadah,” jelasnya.

Ia juga mengajak peserta untuk tetap aktif dalam kegiatan masjid. Kehadiran di masjid tidak semata-mata menjadi aktivitas ibadah, tetapi juga dapat menjadi ruang bagi lansia untuk mempertahankan hubungan sosial dan menjalankan aktivitas positif sesuai kemampuan.

Menurut Pulda, aktivitas spiritual juga dapat diperkuat melalui zikir dan doa. Zikir menjadi salah satu amalan yang dapat dilakukan kapan saja tanpa membutuhkan aktivitas fisik yang berat sehingga sesuai dilakukan oleh lansia dengan menyesuaikan kondisi masing-masing.

“Ketika kemampuan fisik sudah tidak seperti dulu, jangan merasa bahwa kesempatan beribadah juga berkurang. Kita masih bisa berzikir, beristighfar dan berdoa. Biasakan hati mengingat Allah. Dengan zikir, kita belajar menenangkan hati, menerima keadaan dan memperbanyak rasa syukur atas nikmat usia yang masih diberikan,” ungkap Pulda.

Pulda turut mengingatkan peserta untuk membiasakan membaca doa sapu jagad sebagai bagian dari doa sehari-hari. Doa tersebut memuat permohonan kebaikan dunia dan akhirat sehingga dapat menjadi pengingat agar kehidupan yang dijalani tidak hanya berorientasi pada kesehatan dan kenyamanan dunia, tetapi juga kesiapan menuju kehidupan akhirat.

“Biasakan membaca doa sapu jagad. Kita memohon kebaikan di dunia dan kebaikan di akhirat. Doanya singkat, tetapi permohonannya sangat luas. Mari kita baca untuk diri sendiri, keluarga, anak-anak dan generasi kita, agar Allah memberikan kebaikan dalam kehidupan dunia sekaligus keselamatan di akhirat,” tutur Pulda.

Kehadiran KUA Bunguran Barat dalam kegiatan Prolanis menjadi bagian dari upaya memperluas jangkauan pembinaan umat, khususnya kepada kelompok masyarakat rentan seperti lansia. Pembinaan tidak hanya dilakukan dalam ruang-ruang keagamaan formal, tetapi juga melalui sinergi dengan sektor kesehatan yang bersentuhan langsung dengan kebutuhan masyarakat.

Dalam sinergi tersebut, Puskesmas Sedanau memberikan pelayanan melalui program Prolanis sebagai upaya pengelolaan kesehatan peserta, sedangkan KUA memberikan penguatan pada aspek keagamaan dan spiritualitas. Kolaborasi ini menghadirkan pendekatan yang lebih menyeluruh terhadap kebutuhan lansia.

“Pembinaan umat harus hadir di tengah masyarakat dan menyentuh berbagai kelompok, termasuk lansia. Kesehatan jasmani perlu diperhatikan, tetapi ketenangan hati dan kekuatan spiritual juga tidak kalah penting. Karena itu, KUA akan terus membuka ruang sinergi dengan berbagai pihak agar pembinaan keagamaan dapat memberikan manfaat bagi masyarakat,” kata Dela.

Penutupan rangkaian enam kegiatan Prolanis tersebut menjadi momentum untuk mendorong peserta melanjutkan kebiasaan baik yang telah dibangun. Lansia diharapkan tetap menjaga kesehatan sesuai kemampuan, aktif bersilaturahmi, memakmurkan masjid, membaca Al-Qur’an, memperbanyak zikir serta membiasakan diri berdoa.

Melalui sinergi layanan kesehatan dan pembinaan keagamaan, KUA Bunguran Barat turut mengambil bagian dalam menciptakan ruang pembinaan yang tidak hanya berorientasi pada kesehatan fisik, tetapi juga membantu lansia menjalani masa lanjut usia dengan ketenangan, kebermaknaan dan kedekatan kepada Allah SWT.