Setiap tahun umat Islam merayakan Hari Raya Idul Adha dengan gema takbir dan penyembelihan hewan kurban. Namun, di tengah semarak ritual itu, ada pertanyaan yang layak direnungkan: apakah spirit kurban masih hidup dalam rumah tangga modern?
Ironisnya, banyak keluarga hari ini mampu membeli hewan kurban, tetapi gagal menghadirkan nilai pengorbanan dalam kehidupan sehari-hari. Rumah tangga modern perlahan berubah menjadi ruang transaksi, bukan lagi ruang pengabdian dan pengorbanan. Suami menuntut dilayani tanpa mau memahami. Istri ingin dimengerti tanpa mau mengalah. Anak menuntut perhatian tanpa belajar menghormati. Semua ingin menerima, sedikit yang siap berkorban.
Padahal, inti kurban bukan sekadar menyembelih hewan, melainkan menyembelih ego. Kisah Nabi Ibrahim dan Nabi Ismail bukan hanya cerita tentang ketaatan ritual, tetapi pelajaran besar tentang keikhlasan menyerahkan sesuatu yang paling dicintai demi ridha Allah. Dalam konteks rumah tangga, semangat itu seharusnya hadir dalam bentuk kesediaan menahan amarah, mengurangi gengsi, memaafkan pasangan, meluangkan waktu untuk keluarga, hingga rela mengalah demi keutuhan rumah tangga.
Allah SWT berfirman:
“Daging-daging unta dan darahnya itu sekali-kali tidak akan sampai kepada Allah, tetapi yang sampai kepada-Nya adalah ketakwaan kamu.” (QS. Al-Hajj: 37)
Ayat ini menegaskan bahwa nilai utama kurban bukan pada fisik persembahan, tetapi pada kualitas ketakwaan dan keikhlasan. Sayangnya, dalam kehidupan modern, banyak pasangan lebih sibuk mempertahankan citra daripada menjaga cinta. Media sosial dipenuhi potret keluarga harmonis, tetapi di balik layar komunikasi memburuk, empati menipis, dan ego semakin meninggi.
Rumah tangga modern juga sering terjebak dalam budaya individualisme. Masing-masing anggota keluarga hidup dalam “dunianya sendiri.” Suami sibuk dengan pekerjaan dan gawai, istri tenggelam dalam media sosial, anak larut dalam permainan digital. Mereka tinggal serumah, tetapi kehilangan ruh kebersamaan. Tidak ada lagi pengorbanan waktu untuk mendengar, memahami, dan menemani.
Dalam Islam, pernikahan bukan hanya akad untuk hidup bersama, tetapi komitmen untuk saling berkorban dalam kebaikan. Rasulullah SAW memberi teladan bagaimana beliau membantu pekerjaan rumah, mendengarkan istri, dan memperlakukan keluarga dengan kelembutan. Spirit kurban tercermin dalam akhlak beliau yang mendahulukan kasih sayang daripada ego.
Hari ini, banyak rumah tangga runtuh bukan karena kurang cinta, tetapi karena minim pengorbanan. Sedikit masalah langsung diumbar. Sedikit kecewa langsung ingin berpisah. Padahal keluarga yang kuat tidak dibangun oleh dua orang yang sempurna, melainkan oleh dua orang yang bersedia saling mengorbankan ego demi mempertahankan cinta dan ibadah kepada Allah.
Spirit kurban juga penting dalam mendidik anak. Orang tua modern terkadang lebih sibuk memenuhi kebutuhan materi daripada menghadirkan keteladanan. Anak diberi fasilitas terbaik, tetapi miskin perhatian dan nilai spiritual. Padahal pengorbanan terbesar orang tua bukan pada biaya yang dikeluarkan, melainkan kesabaran dalam mendidik dan waktu yang diluangkan untuk membentuk karakter anak.
Idul Adha seharusnya menjadi momentum evaluasi bagi setiap keluarga Muslim. Sudahkah rumah tangga kita dibangun di atas semangat pengorbanan? Ataukah justru dipenuhi perhitungan untung-rugi dan tuntutan hak semata?
Jika spirit kurban benar-benar dihidupkan, rumah tangga tidak akan mudah retak oleh perbedaan. Sebab cinta dalam Islam bukan hanya tentang perasaan, tetapi tentang kesediaan memberi, mengalah, dan bertahan di jalan yang diridhai Allah.
Pada akhirnya, hewan kurban mungkin hanya disembelih setahun sekali. Tetapi semangat kurban dalam rumah tangga seharusnya hidup setiap hari.