Peringatan Hari Pendidikan Nasional setiap tahun bukan sekadar perayaan atau seremonial belaka, melainkan momen sakral untuk menengok kembali arah perjalanan pendidikan bangsa. Pada Hardiknas 2026 dengan tema besar “Menguatkan Partisipasi Semesta Mewujudkan Pendidikan Bermutu untuk Semua”, kita dihadapkan pada satu pertanyaan mendasar: apa makna pendidikan bermutu di tengah derasnya arus transformasi digital saat ini? Jawabannya tak bisa lepas dari satu hal yang sering kali terabaikan di tengah hiruk-pikuk kemajuan teknologi: pembentukan karakter.

Era digital telah mengubah cara kita hidup, berinteraksi, dan belajar. Informasi kini tersedia di ujung jari dengan kecepatan yang tak terbayangkan sebelumnya. Siswa kini tumbuh di tengah dunia yang terhubung secara daring, di mana batas antara ruang publik dan pribadi semakin kabur, serta nilai-nilai yang beragam mengalir masuk tanpa penyaringan. Di satu sisi, kemajuan ini membuka peluang luas untuk memperluas wawasan dan meningkatkan akses pengetahuan. Namun di sisi lain, ia juga membawa tantangan serius bagi pembentukan jati diri dan akhlak generasi muda. Kita menyaksikan bagaimana penyebaran berita bohong, perundungan daring, perilaku tidak etis di ruang maya, hingga hilangnya rasa hormat dan empati antarmanusia menjadi masalah yang semakin nyata dan meresahkan.

Fenomena ini menjadi bukti nyata bahwa keahlian teknis atau penguasaan teknologi saja tidak cukup untuk membentuk manusia yang utuh. Jika pendidikan hanya berfokus pada peningkatan kemampuan kognitif dan keterampilan digital tanpa disertai fondasi karakter yang kuat, kita berisiko melahirkan generasi yang cerdas namun tidak berbudi pekerti, mahir teknologi namun lupa nilai kemanusiaan. Padahal, hakikat pendidikan nasional sebagaimana tertuang dalam Undang-Undang Sistem Pendidikan Nasional adalah mengembangkan potensi peserta didik agar menjadi manusia yang beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, berakhlak mulia, sehat, berilmu, cakap, kreatif, mandiri, dan menjadi warga negara yang demokratis serta bertanggung jawab. Di sini letak pentingnya membangun pendidikan berkarakter—ia adalah jantung dan tujuan akhir dari seluruh proses pendidikan.

Lalu, bagaimana caranya membangun pendidikan berkarakter di tengah kompleksitas era digital ini? Tema Hardiknas tahun ini memberikan arahan jelas: ini adalah tugas bersama, tanggung jawab seluruh elemen bangsa. Tidak bisa hanya dibebankan kepada sekolah atau guru semata, tetapi memerlukan partisipasi semesta secara nyata dan terpadu.

Pertama, sekolah harus mengubah pola pendekatan pembelajaran. Pendidikan karakter tidak bisa hanya diajarkan melalui mata pelajaran agama atau pendidikan kewarganegaraan dalam bentuk teori atau hafalan semata. Nilai-nilai seperti kejujuran, tanggung jawab, kerja sama, empati, dan toleransi harus diintegrasikan ke dalam seluruh mata pelajaran, termasuk saat menggunakan teknologi dalam pembelajaran. Guru tidak hanya berperan sebagai pengajar ilmu pengetahuan, tetapi juga sebagai teladan dan pembimbing yang mengajarkan cara menggunakan teknologi dengan bijak, bertanggung jawab, dan beretika. Sekolah juga perlu menciptakan lingkungan belajar yang menumbuhkan kesadaran bahwa di balik layar perangkat digital, ada manusia lain yang layak dihargai dan dihormati.

Kedua, peran keluarga sebagai lingkungan pendidikan pertama dan utama menjadi semakin krusial di era digital. Orang tua tidak bisa lagi hanya menjadi penonton atau pengawas pasif saat anak-anak mereka berinteraksi dengan dunia digital di rumah. Diperlukan komunikasi yang terbuka, pendampingan yang hangat, serta pembatasan yang wajar dalam penggunaan teknologi. Orang tua perlu mengajarkan anak-anak untuk membedakan mana informasi yang benar dan salah, mana perilaku yang pantas dan tidak pantas, serta mengajarkan mereka untuk menggunakan teknologi demi hal-hal yang bermanfaat bagi diri sendiri maupun orang lain. Nilai-nilai yang ditanamkan di rumah akan menjadi benteng utama bagi anak-anak saat mereka menghadapi berbagai pengaruh di luar sana.

Ketiga, dukungan dari pemerintah dan masyarakat luas sangat dibutuhkan. Pemerintah perlu memastikan bahwa kurikulum pendidikan benar-benar menempatkan pembentukan karakter sebagai prioritas utama, serta menyediakan sarana dan prasarana yang mendukung terciptanya lingkungan pendidikan yang kondusif. Dunia usaha dan industri juga bisa berkontribusi, misalnya dengan menanamkan nilai-nilai kerja keras, kejujuran, dan tanggung jawab dalam setiap kolaborasi dengan lembaga pendidikan. Sementara itu, masyarakat secara umum diharapkan dapat menciptakan budaya yang menghargai nilai-nilai luhur bangsa dan tidak mentoleransi perilaku yang merusak baik di dunia nyata maupun dunia maya.

Hardiknas 2026 adalah momen yang tepat bagi kita semua untuk berjanji: kemajuan teknologi tidak akan membuat kita melupakan hakikat pendidikan sebagai sarana untuk memanusiakan manusia. Di tengah derasnya arus perubahan zaman, pendidikan berkarakter harus tetap menjadi kompas yang menuntun arah perjalanan pendidikan nasional. Dengan partisipasi dan kerja sama seluruh elemen bangsa, kita yakin dapat melahirkan generasi muda Indonesia yang tidak hanya cerdas dan melek teknologi, tetapi juga berakhlak mulia, berjiwa luhur, serta mampu membawa kemajuan bagi bangsa dan negara dengan cara yang benar dan terhormat