KUA Bunguran Utara (Humas) – Langkah kaki Nur Azizah binti Muhammad Yakub terdengar mantap saat memasuki Gedung Sementara MTs Nur Ichsan, Kecamatan Bunguran Utara, Kabupaten Natuna, Kepulauan Riau. Siang itu, Senin (08/06/2026), meski terik udara pesisir terasa menyengat, semangat Penyuluh Agama Fungsional KUA Bunguran Utara ini tak sedikit pun surut untuk menemui kelompok remaja binaannya.
Kehadiran Nur Azizah membawa sebuah misi krusial: mengikis angka buta aksara Al-Qur'an di kalangan generasi muda yang hidup di wilayah beranda terdepan Indonesia.
Di dalam ruang kelas sederhana tersebut, belasan siswa telah berkumpul dengan antusias. Mengusung agenda utama "Memberantas Buta Aksara Al-Qur'an", Nur Azizah membuka kelas bimbingan dengan pendekatan dialogis yang hangat dan menyentuh hati para remaja.
Menanamkan Rasa Cinta pada Kalam Ilahi
Dalam arahannya, Nur Azizah menekankan bahwa kecakapan membaca Al-Qur’an bukan sekadar menggugurkan kewajiban ibadah. Lebih dari itu, ia adalah fondasi utama dalam membentengi karakter dan moral remaja di tengah derasnya arus digitalisasi.
"Mampu membaca Al-Qur'an dengan benar adalah kunci pertama untuk menyelami maknanya. Di usia remaja inilah benteng keimanan harus diperkokoh, dan tidak ada tameng yang lebih kuat selain kedekatan kita dengan Kalam Ilahi," ujar Nur Azizah di hadapan para siswa.
Agar suasana belajar terasa hidup, metode bimbingan dikemas secara interaktif. Nur Azizah tidak sekadar berceramah, melainkan langsung melakukan pemetaan (mapping) kemampuan mengaji tiap siswa. Mulai dari pengenalan huruf hijaiyah lewat makhorijul huruf yang tepat, hingga pendalaman tajwid dasar bagi mereka yang sudah mulai lancar membaca.
Komitmen KUA Menembus Batas Pelosok
Di tempat terpisah, Kepala KUA Bunguran Utara memberikan apresiasi tinggi terhadap konsistensi para penyuluh di lapangan. Ia menegaskan bahwa program pemberantasan buta aksara Al-Qur’an bagi kelompok remaja merupakan salah satu pilar prioritas KUA demi mencetak generasi emas yang religius.
Kondisi fasilitas sekolah yang masih berstatus gedung sementara terbukti tidak menjadi aral melintang. Sebaliknya, keterbatasan sarana ini justru melahirkan ikatan emosional yang kuat antara sang penyuluh dan para remaja binaannya.
Hingga senja menjelang, riuh rendah suara para siswa melafalkan ayat-ayat suci menggema indah di gedung sementara itu. Lewat pembinaan berkala ini, KUA Bunguran Utara bersama para penyuluhnya terus berkomitmen hadir di garda terdepan—memastikan pelita Al-Qur'an akan tetap menyala terang di beranda utara Nusantara.