KUA Bunguran Timur (Humas) – Pengucapan ijab dan kabul merupakan gerbang awal dari ibadah terpanjang yang mengubah setiap aktivitas keseharian suami-istri menjadi bernilai pahala. Menyadari pentingnya penanaman nilai teologis sejak dini, Kepala KUA Kecamatan Bunguran Timur, Asnawi, memberikan pembekalan spiritual yang mendalam melalui penyampaian nasihat pernikahan sesaat setelah memimpin akad nikah pasangan Fredi dan Restasia Yulanda di Kelurahan Ranai Darat, Senin (06/07/2026) pukul 08.30 WIB.
Begitu prosesi ijab kabul dinyatakan sah oleh para saksi, Asnawi langsung memberikan untaian wejangan rohani yang mengulas hakikat pernikahan sebagai mitsaqan ghalizha atau perjanjian yang sangat kuat dan suci di hadapan Allah SWT. Dalam penyampaian materinya, ia menekankan bahwa bekal utama bagi pasangan baru dalam mengarungi dinamika berumah tangga adalah keikhlasan untuk menurunkan ego pribadi serta komitmen untuk saling rida.
Lebih lanjut, Kepala KUA menjabarkan pembagian peran yang berkeadilan berdasarkan syariat Islam. Mempelai pria diingatkan akan tanggung jawab besarnya sebagai nahkoda keluarga yang wajib membimbing istri dengan penuh kelembutan serta memenuhi nafkah lahir dan batin. Sebaliknya, mempelai wanita dibekali pemahaman untuk menjadi mitra terbaik yang saling mendukung dalam ketaatan demi terwujudnya visi keluarga yang sakinah, mawaddah, warahmah.
Sebagai penutup nasihat pernikahannya, Asnawi juga menitipkan strategi penting mengenai manajemen konflik keluarga berbasis nilai-nilai keagamaan.
"Ujian dan perbedaan pendapat di dalam rumah tangga adalah hal yang lumrah terjadi. Namun, kunci utama penyelesaiannya terletak pada komunikasi dua arah yang makruf dan penuh kasih sayang. Ketika riak ujian itu datang, segeralah turunkan ego dan kembalikan segala sesuatunya kepada tuntunan Al-Qur'an dan sunah sebagai rujukan tertinggi," pesan Asnawi di hadapan pengantin dan pihak keluarga.
Melalui penyampaian nasihat pernikahan yang mendalam dan kontekstual ini, KUA Bunguran Timur berharap pasangan Fredi dan Restasia memiliki kesiapan mental dan teologis yang matang dalam menjaga keutuhan benteng rumah tangga mereka dari berbagai kerentanan sosial di masa depan.