KUA Bunguran Barat (HUMAS) — Keluarga menjadi ruang pertama bagi anak untuk belajar mengenal kasih sayang, nilai, sikap, dan perilaku. Karena itu, kualitas pengasuhan di lingkungan keluarga menjadi salah satu fondasi penting dalam membentuk tumbuh kembang anak. Hal tersebut menjadi perhatian Penyuluh Agama Islam KUA Bunguran Barat melalui penyuluhan parenting bertema “Peran Ibu dalam Pendidikan Anak” di TKN 02 Bunguran Barat, Jumat (25/9).
Kegiatan tersebut dihadiri Kepala TKN 02 Bunguran Barat, Ketua Komite, majelis guru, serta orang tua/wali murid. Penyuluhan menghadirkan Penyuluh Agama Islam KUA Bunguran Barat, Hariswati Rachmadani Putri, sebagai narasumber.
Dalam penyuluhan, Putri mengajak para orang tua melihat kembali posisi ibu dalam proses tumbuh kembang anak. Menurutnya, ibu tidak hanya berperan dalam memenuhi kebutuhan sehari-hari, tetapi juga memiliki posisi penting sebagai pendidik utama, pendukung emosional, teladan, sekaligus pengelola berbagai dinamika dalam rumah tangga.
“Peran ibu sangat sentral dalam membangun suasana keluarga. Anak belajar banyak hal pertama kali dari rumah, dari cara orang tua berbicara, bersikap, menyelesaikan masalah, hingga memberikan kasih sayang. Karena itu, ibu perlu menjadi teladan sekaligus menghadirkan suasana rumah yang aman dan nyaman bagi anak,” ujar Putri.
Ia juga mengingatkan pentingnya perhatian terhadap kondisi fisik dan emosional orang tua, khususnya ibu. Menurutnya, kemampuan orang tua dalam mengelola emosi dan menjaga keseimbangan diri turut memengaruhi pola interaksi di dalam keluarga.
“Ketika ibu mampu menjaga kesehatan fisik dan emosionalnya serta menjalani perannya dengan bahagia, suasana positif akan lebih mudah tumbuh di dalam rumah. Sebaliknya, ketika orang tua berada dalam kondisi tertekan dan tidak mampu mengelola emosi, hal tersebut dapat memengaruhi suasana interaksi dengan anak. Karena itu, merawat diri bukan berarti mengabaikan keluarga, tetapi bagian dari menjaga kualitas pengasuhan,” jelasnya.
Pentingnya penguatan pengasuhan juga tergambar dari data perlindungan anak. KPAI mencatat, berdasarkan data BPS 2023, terdapat sekitar 88,7 juta anak Indonesia, atau sekitar sepertiga dari total penduduk. Pada 2024, KPAI menerima 2.057 pengaduan, dengan 954 kasus ditindaklanjuti hingga tahap terminasi. Dari pengawasan tersebut, isu lingkungan keluarga dan pengasuhan menjadi kelompok kasus terbesar dengan 1.097 kasus, disusul anak korban kejahatan seksual 265 kasus, persoalan pemenuhan pendidikan, waktu luang, budaya dan agama 241 kasus, kekerasan fisik dan psikis 240 kasus, serta pornografi dan kejahatan dunia maya 41 kasus.
Data tersebut menjadi pengingat bahwa pengasuhan anak bukan hanya persoalan memenuhi kebutuhan fisik, tetapi juga menciptakan lingkungan yang aman, penuh perhatian, serta mendukung perkembangan karakter anak. Keluarga, sekolah, dan lingkungan masyarakat memiliki peran yang saling melengkapi dalam memberikan perlindungan dan pendidikan bagi anak.
Dalam konteks tersebut, KUA Bunguran Barat melalui Penyuluh Agama Islam turut mengambil bagian dalam penguatan keluarga melalui edukasi keagamaan dan pembinaan masyarakat. Penyuluhan parenting menjadi salah satu ruang untuk mempertemukan nilai-nilai keagamaan dengan persoalan pengasuhan yang dihadapi orang tua dalam kehidupan sehari-hari.
“Pembinaan keluarga tidak berhenti pada persoalan perkawinan. Setelah keluarga terbentuk, ada tanggung jawab besar untuk mendidik, membimbing, dan melindungi anak. Karena itu, KUA juga perlu hadir di tengah masyarakat melalui penyuluhan yang menyentuh kebutuhan keluarga,” tambah Putri.
Kegiatan parenting tersebut sekaligus menjadi ruang komunikasi antara sekolah, komite, dan orang tua/wali murid. Pertemuan ini direncanakan menjadi agenda bulanan yang akan dilaksanakan secara rutin sebagai wadah berbagi informasi, membangun komunikasi, dan memperkuat sinergi dalam mendampingi tumbuh kembang anak.
Melalui kegiatan tersebut, para orang tua diharapkan tidak hanya memperoleh pengetahuan baru mengenai peran ibu dalam pendidikan anak, tetapi juga semakin menyadari pentingnya membangun pola komunikasi yang sehat, menjadi teladan di rumah, serta menciptakan lingkungan keluarga yang aman dan mendukung perkembangan anak.
Sinergi antara KUA, satuan pendidikan, komite, dan keluarga diharapkan dapat memperkuat ekosistem pengasuhan di tingkat masyarakat, sehingga pendidikan karakter dan nilai-nilai keagamaan yang diterima anak di sekolah dapat terus diperkuat melalui keteladanan dan pembiasaan di lingkungan keluarga.