KUA Bunguran Barat (HUMAS) – Penyuluh Agama Islam memiliki peran strategis dalam membina dan menguatkan pemahaman keagamaan masyarakat. Komitmen tersebut kembali diwujudkan oleh Kantor Urusan Agama (KUA) Bunguran Barat melalui kegiatan pembinaan keagamaan pada pertemuan rutin Badan Kontak Majelis Taklim (BKMT) Kecamatan Bunguran Barat yang digelar di Masjid Al-Jam'an, Penyong, Jumat (26/6).

Kegiatan tersebut dihadiri oleh Ketua BKMT Kecamatan Bunguran Barat beserta jajaran pengurus dan anggota majelis taklim. Dalam kesempatan itu, Penyuluh Agama Islam KUA Bunguran Barat, Hariswati Rachmadani Putri, hadir sebagai narasumber dengan mengangkat tema "Hijrah dari Kesombongan Menuju Kerendahan Hati" sebagai refleksi spiritual di bulan Muharram 1448 Hijriah.

Dalam materinya, Putri menjelaskan bahwa makna hijrah tidak hanya dimaknai sebagai perpindahan tempat sebagaimana hijrahnya Rasulullah SAW dari Makkah ke Madinah, tetapi juga sebagai proses perubahan diri dengan meninggalkan sifat-sifat tercela menuju akhlak yang lebih mulia.

Untuk memperdalam pemahaman jamaah, ia mengangkat beberapa kisah yang menjadi pelajaran tentang bahaya kesombongan. Di antaranya kisah Iblis yang menolak perintah Allah SWT untuk bersujud kepada Nabi Adam AS karena merasa dirinya lebih mulia, Fir'aun yang mengaku sebagai tuhan dan menolak kebenaran, serta Abu Lahab yang enggan menerima dakwah Rasulullah SAW lantaran merasa memiliki kedudukan dan kekayaan yang lebih tinggi.

"Kesombongan adalah penyakit hati yang sering kali tidak kita sadari. Seseorang bisa rajin beribadah, tetapi kehilangan nilai ibadahnya ketika masih merasa dirinya lebih baik daripada orang lain. Karena itu, hijrah yang paling berat sesungguhnya adalah hijrah melawan ego dalam diri kita sendiri," tutur Hariswati Rachmadani Putri.

Ia juga mengingatkan bahwa ukuran kemuliaan seseorang di sisi Allah SWT bukan ditentukan oleh harta, jabatan, keturunan, maupun kedudukan sosial, melainkan oleh ketakwaannya.

"Iblis tidak dilaknat karena tidak mengenal Allah, tetapi karena kesombongannya. Fir'aun binasa bukan karena kurangnya kekuasaan, melainkan karena keangkuhannya. Abu Lahab merugi bukan karena miskin ilmu, tetapi karena kesombongan yang menutup hatinya dari hidayah. Kisah-kisah ini menjadi cermin agar kita tidak mengulangi kesalahan yang sama dalam kehidupan sekarang," jelasnya.

Lebih lanjut, Putri mengajak jamaah untuk menjadikan Tahun Baru Hijriah sebagai momentum memperbaiki hubungan dengan Allah SWT sekaligus memperbaiki akhlak kepada sesama manusia.

"Hijrah yang paling nyata adalah ketika hati kita menjadi lebih lembut, lisan lebih terjaga, ibadah semakin baik, dan kita tidak lagi merasa lebih tinggi daripada orang lain. Jika itu mampu kita lakukan, maka sejatinya kita sedang berhijrah setiap hari," pesannya.

Ia menambahkan bahwa KUA Bunguran Barat akan terus mendorong para penyuluh agama untuk aktif melaksanakan pembinaan di berbagai lapisan masyarakat sebagai bagian dari penguatan moderasi beragama, peningkatan literasi keagamaan, dan pembentukan karakter umat yang berakhlakul karimah.

Kegiatan berlangsung dengan penuh kekhidmatan. Para jamaah mengikuti materi hingga selesai dan tampak antusias menyimak setiap kisah yang disampaikan sebagai bahan refleksi diri dalam menyambut Tahun Baru Hijriah. Melalui pembinaan yang berkelanjutan seperti ini, KUA Bunguran Barat berharap semangat hijrah tidak hanya menjadi tema ceramah, tetapi benar-benar diwujudkan dalam perubahan sikap, akhlak, dan perilaku masyarakat menuju kehidupan yang lebih baik.