Kita hidup di zaman yang serba cepat. Informasi datang setiap detik. Notifikasi tidak pernah berhenti. Media sosial seolah menjadi ruang hidup kedua setelah dunia nyata. Kita bisa mengetahui peristiwa di belahan dunia lain hanya dalam hitungan detik, tetapi ironisnya, terkadang kita justru semakin jauh dari diri sendiri.
Di tengah hiruk-pikuk kehidupan modern, Muharram hadir seperti sebuah jeda. Ia mengajak kita menoleh ke belakang, melihat perjalanan yang telah dilalui, lalu bertanya dengan jujur kepada diri sendiri: ke mana sebenarnya hidup ini sedang berjalan?
Hari ini, banyak orang terlihat baik-baik saja di luar, tetapi sedang berjuang keras di dalam. Senyumnya ada, tetapi hatinya lelah. Status media sosialnya tampak bahagia, tetapi pikirannya dipenuhi kecemasan. Kita hidup di era ketika manusia semakin terhubung oleh teknologi, tetapi tidak sedikit yang merasa semakin kesepian.
Muharram mengingatkan kita bahwa hijrah bukan hanya cerita tentang perjalanan Nabi Muhammad saw. dari Makkah ke Madinah. Hijrah adalah cerita tentang keberanian berubah. Keberanian meninggalkan sesuatu yang tidak sehat bagi jiwa, meskipun sudah terasa nyaman dan biasa.
Mungkin hari ini yang perlu dihijrahi bukan kota tempat tinggal, melainkan kebiasaan-kebiasaan yang diam-diam merusak diri.
Hijrah dari budaya membandingkan hidup dengan orang lain di media sosial.
Hijrah dari kebiasaan menghakimi sebelum memahami.
Hijrah dari amarah yang mudah meledak.
Hijrah dari hubungan yang dipenuhi kebencian dan dendam.
Hijrah dari sikap masa bodoh terhadap sesama.
Sebab tidak semua luka berasal dari kekurangan materi. Banyak luka lahir dari hati yang kehilangan arah.
Kita juga sedang menghadapi zaman yang unik. Orang berlomba-lomba menjadi viral, tetapi lupa menjadi bermanfaat. Banyak yang sibuk mencari pengikut, tetapi lalai memperbaiki diri. Tidak sedikit yang mengukur harga diri dengan jumlah "like" dan "view", seakan nilai manusia ditentukan oleh algoritma.
Padahal dalam pandangan Islam, kemuliaan seseorang tidak pernah diukur dari seberapa terkenal dirinya, tetapi seberapa dekat ia dengan Tuhannya dan seberapa besar manfaat yang ia berikan kepada orang lain.
Muharram datang membawa pesan bahwa hidup bukan perlombaan untuk terlihat paling hebat, melainkan perjalanan untuk menjadi lebih baik dari hari kemarin.
Yang lebih menyentuh lagi, hijrah tidak menuntut kita menjadi sempurna dalam semalam.
Allah tidak meminta kita langsung berubah menjadi manusia tanpa dosa. Allah hanya meminta kita terus bergerak menuju kebaikan.
Selangkah demi selangkah.
Hari ini mungkin mulai memperbaiki salat.
Besok mulai memperbaiki hubungan dengan orang tua.
Lusa mulai meminta maaf kepada orang yang pernah disakiti.
Minggu depan mulai meninggalkan kebiasaan buruk yang selama ini sulit dilepaskan.
Begitulah hijrah bekerja. Perlahan, tetapi nyata.
Tahun Baru Islam bukan sekadar pergantian angka 1447 menjadi 1448 Hijriah. Ia adalah pengingat bahwa usia terus berkurang. Waktu terus berjalan. Kesempatan tidak selalu datang dua kali.
Maka ketika gema pawai Muharram terdengar, ketika ucapan selamat tahun baru Islam bertebaran di mana-mana, jangan sampai yang berubah hanya kalender di dinding rumah. Biarlah yang ikut berubah adalah hati kita, cara berpikir kita, dan cara kita memperlakukan sesama.
Karena sejatinya, hijrah terbesar bukanlah berpindah tempat, melainkan berpindah dari diri yang lama menuju diri yang lebih dekat kepada Allah.
Dan mungkin, Muharram tahun ini adalah kesempatan terbaik untuk memulainya. Bukan besok. Bukan tahun depan.
Tetapi hari ini. Saat kita masih diberi waktu. Saat pintu perubahan masih terbuka. Saat Allah masih memberi kesempatan untuk kembali.