KUA Bunguran Barat (HUMAS) – Komitmen Kantor Urusan Agama (KUA) Bunguran Barat dalam memperkuat pembinaan kehidupan beragama masyarakat terus diwujudkan melalui sinergi bersama pengurus masjid. Salah satunya melalui kegiatan pengajian rutin di Masjid Besar An-Nur Sedanau yang kali ini mengangkat tema maksiat batin sebagai bagian dari penyempurnaan taubat, Ahad (2/8/2026).

Kegiatan yang diselenggarakan oleh Pengurus Masjid Besar An-Nur Sedanau tersebut dihadiri oleh pengurus masjid, imam masjid, para ustaz, jamaah laki-laki dan perempuan, serta Remaja Masjid Besar An-Nur. Materi disampaikan oleh Harjono, pegawai KUA Bunguran Barat, sebagai lanjutan pembahasan pekan sebelumnya mengenai hakikat taubat berdasarkan literatur para ulama.

Dalam kajiannya, Harjono menjelaskan bahwa taubat yang sempurna tidak hanya diwujudkan dengan meninggalkan maksiat yang tampak secara lahiriah, tetapi juga membersihkan berbagai penyakit hati yang sering kali luput dari perhatian. Ia menegaskan bahwa maksiat batin dapat menjadi penghalang seseorang dalam meraih kedekatan dengan Allah SWT apabila tidak disadari dan diperbaiki.

"Banyak orang mampu meninggalkan maksiat yang terlihat oleh mata manusia, tetapi masih membiarkan penyakit hati tumbuh dalam dirinya. Padahal taubat yang sejati adalah membersihkan lahir dan batin sekaligus agar hati menjadi tempat yang layak untuk menerima hidayah Allah SWT," jelas Harjono.

Dalam kesempatan tersebut, jamaah diajak memahami beberapa bentuk maksiat batin yang perlu diwaspadai, di antaranya sikap berlebihan dalam memenuhi hawa nafsu, termasuk kecenderungan berlebih-lebihan dalam makan yang dapat melemahkan semangat ibadah dan mengeraskan hati. Selain itu, dibahas pula pentingnya menjaga lisan dari perkataan yang tidak bermanfaat karena dapat menjerumuskan seseorang pada dosa seperti ghibah, fitnah, dusta, dan ucapan yang sia-sia.

"Lisan adalah amanah. Banyak manusia tergelincir bukan karena langkah kakinya, tetapi karena perkataan yang keluar dari lisannya. Oleh sebab itu, seorang muslim hendaknya lebih banyak berdzikir, membaca Al-Qur'an, dan berbicara hanya pada hal-hal yang membawa manfaat," pesannya kepada jamaah.

Para jamaah mengikuti kajian dengan penuh perhatian dan antusias. Sesi pengajian juga diisi dengan dialog interaktif sehingga peserta dapat memperdalam pemahaman mengenai cara mengendalikan hawa nafsu, menjaga kebersihan hati, serta mengamalkan nilai-nilai taubat dalam kehidupan sehari-hari.

Kepala KUA Bunguran Barat, Dela Pulda, menyampaikan bahwa kajian keagamaan yang dilaksanakan secara rutin merupakan salah satu bentuk pembinaan umat yang terus didorong oleh KUA melalui kolaborasi dengan pengurus masjid dan tokoh agama.

"KUA Bunguran Barat akan terus mendukung terselenggaranya majelis ilmu yang berkesinambungan sebagai sarana meningkatkan kualitas keimanan, memperbaiki akhlak, dan memperkuat pemahaman masyarakat terhadap ajaran Islam. Pembinaan seperti ini menjadi bagian penting dalam mewujudkan masyarakat yang religius, harmonis, dan berakhlakul karimah," ujarnya.

Melalui sinergi yang terus dibangun bersama pengurus masjid, KUA Bunguran Barat berkomitmen menghadirkan pembinaan keagamaan yang berkelanjutan dan menyentuh kebutuhan masyarakat. Diharapkan, kajian rutin seperti ini tidak hanya menambah wawasan keislaman, tetapi juga mendorong lahirnya pribadi-pribadi yang senantiasa memperbaiki diri, menjaga hati, serta mengamalkan ajaran Islam secara utuh dalam kehidupan sehari-hari.