Ayah merupakan sosok yang memegang amanah kepemimpinan dalam rumah tangga. Dalam kehidupan keluarga, peran ayah tidak hanya terbatas sebagai pencari nafkah, tetapi juga sebagai pendidik, pembimbing, sekaligus teladan bagi anak-anaknya. Kehadiran seorang ayah memiliki pengaruh besar terhadap tumbuh kembang anak, baik secara emosional, sosial, maupun spiritual.
Dalam perspektif Islam, posisi ayah dalam pendidikan anak bahkan mendapatkan perhatian yang sangat besar. Sarah binti Halil dalam karya ilmiahnya memaparkan ragam komunikasi antara orang tua dan anak yang diabadikan dalam Al-Qur’an. Tercatat ada 17 dialog antara orang tua dan anak yang tersebar dalam sembilan surah. Menariknya, komunikasi antara ayah dan anak disebutkan sebanyak 14 kali, sedangkan komunikasi ibu dan anak hanya dua kali, dan satu kali melibatkan kedua orang tua tanpa nama.
Fakta tersebut tentu bukan sekadar kebetulan. Al-Qur’an sebagai pedoman hidup umat manusia menyampaikan pesan bahwa ayah memiliki keterlibatan yang sangat penting dalam proses pendidikan anak. Sosok ayah tidak hanya hadir untuk memenuhi kebutuhan materi, tetapi juga harus aktif membangun komunikasi, memberikan nasihat, serta menanamkan nilai-nilai kehidupan kepada anak-anaknya.
Sayangnya, dalam kehidupan modern saat ini masih banyak ayah yang memahami tugasnya sebatas bekerja dan mencari nafkah. Setelah itu, seluruh tanggung jawab pengasuhan anak diserahkan kepada ibu. Padahal, pola pikir semacam ini justru dapat mengurangi kualitas hubungan emosional antara ayah dan anak.
McMunn (2015) menjelaskan bahwa sosok ayah tidak cukup hanya hadir sebagai penyedia kebutuhan ekonomi keluarga. Ayah juga dituntut memiliki peran kuat dalam perkembangan sosial, emosional, dan perilaku anak. Bahkan, berbagai penelitian psikologi dalam beberapa tahun terakhir menunjukkan bahwa hilangnya peran ayah dalam pendidikan anak dapat berdampak negatif terhadap pembentukan karakter dan kepribadian anak.
Anak yang tumbuh tanpa kedekatan emosional dengan ayah cenderung mengalami kesulitan dalam membangun rasa percaya diri, kontrol emosi, hingga kemampuan bersosialisasi. Tidak sedikit pula anak yang kehilangan figur teladan karena minimnya interaksi dengan ayahnya sendiri.
Selain itu, Kiernan (2005) menyebutkan bahwa keberadaan ayah memberikan banyak keuntungan bagi anak dan keluarga. Kehadiran ayah dapat meningkatkan perhatian orang tua terhadap anak, memperkuat pembagian tanggung jawab dalam pengasuhan, serta secara tidak langsung meningkatkan kesejahteraan ibu.
Karena itu, kehadiran ayah seharusnya bukan hanya secara fisik, tetapi juga secara psikis dan emosional. Banyak ditemukan sosok ayah yang memang berada di rumah, namun jarang berkomunikasi dengan anak, minim memberikan arahan, bahkan nyaris tidak terlibat dalam proses pendidikan anak sehari-hari. Akibatnya, anak kehilangan figur yang kuat dalam hidupnya.
Padahal, bagi anak, ayah adalah salah satu sumber inspirasi terbesar. Cara ayah berbicara, bersikap, menyelesaikan masalah, hingga memperlakukan keluarga akan menjadi contoh yang direkam oleh anak sepanjang hidupnya. Tidak berlebihan jika dikatakan bahwa masa depan anak sering kali dipengaruhi oleh kualitas kehadiran seorang ayah dalam kehidupannya.
Pada akhirnya, menjadi ayah bukan hanya tentang bekerja keras memenuhi kebutuhan rumah tangga, tetapi juga tentang menghadirkan cinta, perhatian, dan keteladanan. Ketika ayah mampu menjalankan perannya secara maksimal dalam proses tumbuh kembang anak, maka ia tidak hanya menjadi kepala keluarga, tetapi juga menjadi sosok inspiratif yang membantu anak menemukan arah dan visi hidupnya.