KUA Bunguran Utara (Humas) --- Memasuki era sosial yang semakin kompleks, bekal spiritual menjadi fondasi penting bagi masyarakat dalam menjaga keharmonisan. Menyadari hal tersebut, Penyuluh Agama Islam KUA Kecamatan Bunguran Utara, Nur Azizah Binti Muhammad Yakub, menyampaikan tausiyah mendalam bertajuk "Sabar Itu Tidak Ada Batasnya: Mengelola Amarah dalam Keseharian" pada kegiatan rutin Majelis Taklim Permata Desa, Minggu (07/06/2026).

Agenda yang berjalan penuh khidmat di Desa Kelanga, Bunguran Utara ini dihadiri oleh puluhan jamaah ibu-ibu yang tampak antusias menyerap materi.

Dalam ceramahnya, Nur Azizah meluruskan pandangan keliru yang selama ini menjamur di tengah masyarakat, yaitu anggapan bahwa kesabaran manusia memiliki titik batas. Ia menegaskan bahwa dalam sudut pandang Islam, sabar merupakan sebuah proses spiritual yang berkesinambungan dan tidak akan pernah habis.

"Seringkali kita mendengar ucapan bahwa sabar itu ada batasnya. Padahal secara hakikat, Islam mengajarkan bahwa sabar itu tanpa batas. Sabar adalah seni mengendalikan amarah secara bijak, bukan menyimpannya rapat-rapat sampai akhirnya meledak," jelas Nur Azizah di hadapan jamaah.

Ia tidak menampik bahwa rasa marah adalah sifat yang manusiawi. Kendati demikian, Islam telah menyediakan panduan konkret agar emosi tersebut tidak merusak diri sendiri dan orang lain. Nur Azizah pun membagikan teknik praktis pengendalian diri sesuai tuntunan agama, mulai dari mengubah posisi tubuh saat emosi menyulut, mengambil air wudhu, hingga selalu mengingat pahala besar di balik sikap menahan diri.

"Mampu meredam amarah bukanlah sebuah kelemahan, melainkan refleksi dari kokohnya iman seseorang. Justru mereka yang bisa menahan diri di saat punya kesempatan untuk meluapkan amarahnya adalah orang-orang yang sedang memuliakan dirinya di hadapan Allah SWT," imbuhnya.

Sesi diskusi pun berlangsung interaktif. Banyak jamaah yang memanfaatkan momen ini untuk berkonsultasi mengenai dinamika menghadapi konflik, baik dalam lingkup rumah tangga maupun kehidupan bertetangga.

Kegiatan majelis taklim ini diharapkan mampu menjadi penyejuk hati sekaligus benteng sosial bagi warga Bunguran Utara. Peran aktif penyuluh agama seperti Nur Azizah dinilai sangat krusial dalam merawat kerukunan dan stabilitas di tingkat desa.

Apresiasi tinggi juga datang dari Kepala KUA Kecamatan Bunguran Utara atas konsistensi para penyuluh yang terus mengabdi di lapangan. Kehadiran mereka diharapkan tidak sekadar meningkatkan literasi keagamaan, tetapi juga menjadi penggerak perubahan perilaku masyarakat menuju lingkungan yang lebih damai, sejuk, dan harmonis.