KUA Bunguran Barat (HUMAS) – Tanah wakaf tidak hanya memiliki potensi sebagai aset keagamaan, tetapi juga dapat menjadi ruang produktif yang memberikan manfaat bagi lingkungan dan kesejahteraan umat. Semangat inilah yang diwujudkan KUA Bunguran Barat melalui kegiatan gotong royong bersama pemerintah kecamatan, kelurahan, dan masyarakat di tanah wakaf Darustina, wilayah Penyong, Kelurahan Sedanau, Jumat (30/10).

Kegiatan tersebut dilaksanakan sebagai bagian dari persiapan implementasi program ekoteologi melalui gerakan ASN Berwakaf dengan rencana penanaman bibit kelapa hibrida. Personel KUA Bunguran Barat bersama unsur Pemerintah Kecamatan Bunguran Barat, Kelurahan Sedanau, dan warga Penyong bergotong royong membersihkan serta menyiapkan lahan agar siap dimanfaatkan untuk kegiatan penanaman.

Bagi KUA Bunguran Barat, kegiatan ini bukan sekadar kerja bersama membersihkan lahan, melainkan langkah awal mengoptimalkan potensi tanah wakaf agar memberikan manfaat yang lebih luas. Melalui pendekatan ekoteologi, nilai-nilai keagamaan dihubungkan dengan kepedulian terhadap alam, pelestarian lingkungan, dan tanggung jawab manusia dalam menjaga bumi.

Kepala KUA Bunguran Barat, Dela Pulda, menyampaikan bahwa kepedulian terhadap lingkungan merupakan bagian dari pengamalan nilai-nilai agama. Menurutnya, menjaga alam tidak cukup hanya melalui imbauan, tetapi perlu diwujudkan dalam tindakan nyata yang memberikan manfaat berkelanjutan.

“Ekoteologi mengajarkan bahwa menjaga lingkungan merupakan bagian dari tanggung jawab kita sebagai manusia sekaligus bentuk pengamalan nilai-nilai keagamaan. Tanah wakaf memiliki potensi besar untuk memberikan manfaat bagi umat. Karena itu, melalui persiapan penanaman kelapa hibrida ini, kita ingin menghadirkan wakaf yang tidak hanya tertata secara administrasi, tetapi juga produktif dan memberikan manfaat bagi lingkungan serta masyarakat,” ujar Pulda.

Ia juga mengapresiasi keterlibatan pemerintah kecamatan, kelurahan, dan masyarakat yang telah bersama-sama mengambil bagian dalam kegiatan tersebut. Kolaborasi lintas sektoral dinilai penting agar program yang direncanakan tidak berhenti sebagai kegiatan seremonial, tetapi dapat berlanjut hingga tahap penanaman, pemeliharaan, dan pemanfaatan hasilnya.

“Gerakan ini membutuhkan kebersamaan dan komitmen. Menanam merupakan langkah awal, tetapi merawat hingga tumbuh dan menghasilkan adalah tanggung jawab bersama. Kami berharap masyarakat turut menjaga tanaman yang nantinya ditanam agar manfaatnya dapat dirasakan dalam jangka panjang,” tambahnya.

Program ini sejalan dengan semangat ekoteologi Kementerian Agama yang mendorong penguatan hubungan antara ajaran agama dan tanggung jawab ekologis. Dalam perspektif Islam, manusia memiliki amanah sebagai khalifah di bumi sebagaimana ditegaskan dalam QS. Al-Baqarah ayat 30. Sementara itu, QS. Al-A'raf ayat 56 mengingatkan manusia agar tidak membuat kerusakan di bumi setelah Allah memperbaikinya.

Melalui kegiatan gotong royong tersebut, KUA Bunguran Barat juga memperkuat perannya dalam pembinaan umat melalui pendekatan sosial dan lingkungan. Pembinaan keagamaan tidak hanya disampaikan melalui ceramah atau kegiatan di rumah ibadah, tetapi juga diwujudkan melalui aksi nyata yang mengajak masyarakat menjaga alam dan mengembangkan potensi aset wakaf.

Persiapan lahan untuk penanaman kelapa hibrida di tanah wakaf Darustina menjadi langkah awal menuju pemanfaatan aset wakaf yang lebih produktif. Dengan dukungan ASN, pemerintah setempat, dan masyarakat, program ini diharapkan berkembang menjadi gerakan bersama yang menghadirkan manfaat ekologis sekaligus nilai sosial dan ekonomi bagi umat.

Dari tanah wakaf yang dipersiapkan bersama, KUA Bunguran Barat berupaya menumbuhkan kesadaran bahwa merawat lingkungan adalah bagian dari ibadah dan tanggung jawab bersama. Semangat gotong royong ini diharapkan tidak berhenti pada penanaman bibit, tetapi tumbuh menjadi kepedulian berkelanjutan demi lingkungan yang lestari dan kesejahteraan masyarakat.