KUA Bunguran Barat (HUMAS) — Kesehatan lansia tidak hanya berkaitan dengan kondisi fisik, tetapi juga menyangkut ketenangan hati, kekuatan spiritual, dan rasa nyaman dalam menjalani kehidupan sehari-hari. Hal tersebut menjadi perhatian dalam kegiatan Program Pengelolaan Penyakit Kronis (Prolanis) Klub Ikan Belanak yang digelar di Posyandu Seroja, Panas, Kelurahan Sedanau, Rabu (9/9).
Kegiatan yang diikuti para peserta Prolanis tersebut turut menghadirkan Kepala KUA Bunguran Barat, H. Dela Pulda, sebagai pengisi materi dengan tema “Terapi Ibadah dan Spiritualitas Lansia.” Kehadiran KUA dalam kegiatan ini menjadi bagian dari upaya memberikan pendampingan kepada masyarakat melalui pendekatan keagamaan yang menyentuh kebutuhan spiritual, khususnya bagi kelompok lanjut usia.
Dalam penyampaiannya, Pulda mengajak para lansia untuk menjadikan ibadah sebagai bagian dari kehidupan sehari-hari sekaligus sarana menjaga ketenangan batin. Menurutnya, memasuki usia lanjut bukan berarti berhenti berkarya dan menjalani kehidupan dengan penuh semangat, melainkan menjadi momentum untuk semakin mendekatkan diri kepada Allah SWT.
“Ibadah bukan hanya kewajiban, tetapi juga dapat menjadi terapi bagi hati. Ketika kita mendekatkan diri kepada Allah, memperbanyak doa, zikir dan membaca Al-Qur’an, insyaallah hati menjadi lebih tenang. Di usia lanjut, ketenangan spiritual seperti ini sangat penting agar kita tetap menjalani kehidupan dengan sabar, ikhlas dan penuh rasa syukur,” ujar Pulda.
Ia juga mengingatkan bahwa kondisi fisik yang mulai mengalami perubahan seiring bertambahnya usia perlu diiringi dengan kemampuan menjaga kesehatan jiwa dan spiritual. Lansia diharapkan tidak merasa sendiri ataupun kehilangan semangat dalam menjalani kehidupan.
“Usia boleh bertambah, tenaga mungkin tidak lagi seperti ketika muda, tetapi semangat untuk beribadah dan berbuat baik jangan sampai berkurang. Justru di usia ini kita mempunyai kesempatan untuk lebih banyak mendekatkan diri kepada Allah dan menikmati kehidupan dengan rasa syukur,” lanjutnya.
Keterlibatan KUA Bunguran Barat dalam kegiatan Prolanis tersebut menunjukkan bahwa peran KUA tidak hanya terbatas pada pelayanan administrasi dan bimbingan perkawinan. Di tengah masyarakat, KUA juga memiliki ruang untuk hadir dalam pembinaan keagamaan, penyuluhan, penguatan spiritual, serta pendampingan masyarakat dalam berbagai aspek kehidupan sosial keagamaan.
Dalam konteks kegiatan Prolanis, pendekatan tersebut menjadi pelengkap bagi upaya menjaga kesehatan lansia. Jika tenaga kesehatan memberikan perhatian terhadap aspek kesehatan fisik, KUA mengambil peran dalam memperkuat dimensi spiritual dan psikologis melalui nilai-nilai keagamaan.
Pulda menyampaikan bahwa sinergi seperti ini penting karena kesehatan manusia pada dasarnya tidak hanya dapat dilihat dari kondisi tubuh.
“Kita ingin kesehatan masyarakat tidak hanya dipahami sebagai sehat secara fisik, tetapi juga sehat secara mental dan spiritual. Karena itu, KUA hadir untuk memberikan penguatan dari sisi keagamaan. Kita mendampingi masyarakat agar ibadah tetap terjaga dan kehidupan spiritual tetap tumbuh, terutama bagi para lansia,” katanya.
Menurutnya, kegiatan bersama seperti ini juga menjadi ruang silaturahmi yang memberikan kebahagiaan tersendiri bagi para lansia. Pertemuan tidak hanya diisi dengan penyampaian materi, tetapi juga menjadi kesempatan bagi peserta untuk berkumpul, berbagi cerita, saling menguatkan, dan merasakan bahwa mereka tetap menjadi bagian penting dari kehidupan bermasyarakat.
Kegiatan tersebut dihadiri oleh staf Puskesmas Sedanau, para peserta Prolanis, serta Kepala KUA Bunguran Barat. Kolaborasi antara unsur kesehatan dan keagamaan diharapkan dapat terus dikembangkan sehingga pelayanan kepada masyarakat, khususnya lansia, menjadi semakin menyeluruh.
Bagi KUA Bunguran Barat, kehadiran dalam kegiatan Prolanis juga menjadi bentuk nyata semangat melayani umat dengan pendekatan yang humanis—hadir bukan hanya ketika masyarakat membutuhkan layanan keagamaan secara administratif, tetapi juga ketika mereka membutuhkan penguatan, ketenangan, dan pendampingan dalam menjalani fase kehidupan.
“Semoga kegiatan seperti ini terus memberikan manfaat. Kita ingin para lansia tetap sehat, bahagia, dekat dengan keluarga, aktif bersosialisasi dan tentu saja semakin dekat dengan Allah SWT. Karena hidup yang baik bukan hanya tentang panjangnya usia, tetapi tentang bagaimana usia yang kita jalani diisi dengan ibadah, kebaikan dan kebermanfaatan,” tutup Pulda.