Dalam hiruk pikuk kehidupan modern, manusia sering larut dalam kesibukan tanpa sempat bertanya: ke mana semua ini akan berakhir? Dunia dikejar seolah abadi, sementara akhirat ditunda seakan masih lama. Padahal dalam Al-Qur'an, Allah menggambarkan satu momen yang pasti datang—saat manusia tidak lagi berbicara tentang ambisi, tetapi tentang penyesalan: ليتني (seandainya aku) dan ليتنا (seandainya kami).

Ungkapan ليتني adalah suara penyesalan pribadi. Dalam Surah Al-Fajr ayat 24, manusia berkata, “Seandainya aku dahulu berbuat untuk hidupku ini.” Ia baru sadar bahwa hidup yang sebenarnya bukan di dunia, melainkan setelah kematian. Penyesalan ini semakin dalam ketika seseorang menyadari kesalahannya dalam memilih jalan dan teman, sebagaimana tergambar dalam Surah Al-Furqan ayat 27–28. Ia menyesal karena tidak mengikuti jalan Rasul dan karena menjadikan orang yang salah sebagai teman dekat.

Puncaknya, ketika catatan amal dibuka, manusia tidak lagi mencari alasan. Dalam Surah Al-Haqqah ayat 25–26, ia berkata, “Seandainya aku tidak diberikan kitab amalku.” Bahkan dalam Surah An-Naba ayat 40, penyesalan itu mencapai titik paling getir: “Seandainya aku dahulu hanyalah tanah.” Ini bukan sekadar penyesalan, tetapi keputusasaan total karena semua telah terlambat.

Tidak hanya secara individu, penyesalan juga muncul secara kolektif. Dalam Surah Al-An’am ayat 27 dan Al-Ahzab ayat 66–67, manusia berkata, “Seandainya kami dikembalikan ke dunia” dan “Seandainya kami dahulu taat kepada Allah dan Rasul.” Mereka menyadari bahwa mengikuti arus tanpa prinsip telah membawa mereka pada kehancuran yang sama.

Dari semua ini, ada satu pelajaran yang tidak bisa diabaikan: penyesalan selalu datang di akhir, ketika kesempatan sudah tidak ada. Dunia adalah tempat beramal, bukan tempat kembali. Maka menunda kebaikan, meremehkan dosa, dan hidup tanpa arah adalah jalan perlahan menuju penyesalan yang tidak lagi berguna.

Hari ini, sebelum kata ليتني dan ليتنا benar-benar terucap, masih ada waktu untuk berubah. Masih ada kesempatan untuk memperbaiki. Karena akan datang satu hari ketika satu detik saja sangat berharga, namun tidak lagi diberikan.

اللهم لا تجعلنا من النادمين
Allahumma la تجعلنا من النادمين
“Ya Allah, jangan jadikan kami termasuk orang-orang yang menyesal.”

Wallahu a’lam bish-shawab.