KUA Bunguran Timur (Humas) – Prosesi akad nikah di
dalam Islam tidak hanya berhenti pada sahnya pengucapan ijab dan kabul,
melainkan menjadi pintu gerbang dari perjalanan panjang pembentukan karakter
umat di tingkat keluarga. Guna memberikan bekal teologis yang kokoh bagi
pasangan yang baru saja sah menjadi suami-istri, KUA Kecamatan Bunguran Timur
secara konsisten mengoptimalkan penyampaian nasihat pernikahan (khotbah
nikah) dengan pendalaman materi yang menyentuh aspek spiritual dan praktis
rumah tangga.
Penyampaian nasihat perkawinan ini menjadi instrumen dakwah
tidak langsung yang sangat strategis. Melalui untaian pesan yang disampaikan
tepat setelah ketegangan ijab kabul mencair, materi yang diulas tidak hanya
ditujukan untuk mengetuk hati pasangan pengantin baru, melainkan juga berfungsi
sebagai ruang refleksi spiritual bagi seluruh keluarga besar dan jemaah yang
hadir menyaksikan pernikahan tersebut.
Kepala KUA Bunguran Timur, Asnawi, memaparkan bahwa materi
nasihat nikah yang disampaikan di lapangan selalu menekankan hakikat pernikahan
sebagai ibadah terpanjang dan seumur hidup. Pengantin baru diajak untuk
menyadari bahwa sejak akad diucapkan, seluruh aktivitas keseharian mereka,
mulai dari hal terkecil hingga tanggung jawab terbesar, kini telah bernilai
pahala di sisi Allah SWT. Fondasi utama yang ditekankan adalah bagaimana
merawat komitmen mitsaqan ghalizha atau perjanjian yang kukuh, yang
menuntut kesetiaan, pengorbanan, dan kelapangan dada dari kedua belah pihak.
Lebih lanjut, materi nasihat tersebut secara mendalam
mengupas pembagian peran yang berkeadilan berdasarkan syariat. Pengantin pria
diberikan penekanan khusus mengenai kedudukannya sebagai qawwam
(pemimpin) yang wajib menafkahi secara lahir dan batin, memberikan rasa aman,
serta membimbing istri dengan cara yang makruf (lemah lembut). Sebaliknya,
pengantin wanita dibekali pemahaman untuk menjadi madrasah pertama dalam rumah
tangga dan mitra strategis suami yang saling mendukung demi terwujudnya visi
keluarga sakinah, mawaddah, dan warahmah.
Pada bagian penutup nasihat, petugas KUA selalu menyelipkan
materi krusial mengenai manajemen konflik berbasis agama. Pasangan muda
diingatkan bahwa badai ujian dalam rumah tangga adalah hal yang niscaya, namun
kunci penyelesaiannya terletak pada penurunan ego personal, komunikasi dua arah
yang sehat, serta komitmen bersama untuk kembali menjadikan Al-Qur'an dan sunah
sebagai rujukan tertinggi. Dengan menyuntikkan nilai-nilai keimanan dan
kesiapan mental yang matang ini, KUA Bunguran Timur berharap setiap keluarga
baru di Natuna memiliki daya tahan yang kuat dari kerentanan sosial dan
perceraian.